Kursus Kecantikan, Alternatif Baru Selama Pandemi

Tidak sedikit krama Bali yang mencari alternatif lain untuk mendapatkan sumber mata pencaharian baru selama pandemi.

Denpasar (bisnisbali.com) – Tidak sedikit krama Bali yang mencari alternatif lain untuk mendapatkan sumber mata pencaharian baru selama pandemi. Salah satu yang diminati adalah pelatihan kecantikan atau menjadi make-up artist (MUA).

Pemilik Salon Agung, A.A. Ketut Agung mengatakan, pelatihan di salonnya tetap berjalan selama pandemi. Bahkan, tidak ada penurunan jumlah peminat yang signifikan. Ruangan yang disediakan untuk pelatihan sangat luas dan cukup untuk menampung 20 orang dengan jarak sekitar satu meter. Protokol kesehatan menjadi alasan utama untuk mengurangi jumlah pelatihan.

“Jika situasi normal yang datang untuk berlatih ada sekitar lima puluh orang. Tapi karena pandemi Covid-19 kita membatasi dengan menerima peserta sebanyak 20 orang saja yang dibagi menjadi 2 sesi setiap harinya, yaitu pagi dan sore,” ujarnya.

Pelatihan itu diperlukan, bukan sekadar agar mampu merias, tapi juga mengetahui aturan-aturan yang mendasarinya. Seperti di Bali, adanya payas agung, payas madya dan payas nista. Semua kategori tersebut memiliki cirinya masing-masing yang disesuaikan dengan budaya adat lokal.

Menjadi seorang penata rias harus disertai dengan sertifikat kemampuan yang didapatkan di tempat uji kompetensi (TUK). Sertifikat ini menjadi dasar bagi MUA untuk membuktikan bakatnya dan dapat membuka salon kecantikan karena tanggung jawab seorang perias itu besar, yang melibatkan wajah seseorang. Jadi, persiapan yang dilakukan harus matang dan detail.

“Banyak orang di luar sana yang tidak paham dengan aturan ini. MUA yang membuka salon tanpa memiliki sertifikat. Itu wajib hukumnya, tapi karena memang saya tidak terlalu ketat, diharapkan kesadaran masing-masing untuk lebih menyelami profesi dengan aturan yang berlaku,” imbuhnya.

Dalam masa pandemi seperti ini, Salon Agung memberikan kelonggaran kepada masyarakat yang ingin belajar tata rias untuk mendapat potongan harga sampai lima puluh persen. Hal ini dilakukan guna meringankan beban masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

“Kami di sini sangat ingin membantu, jika dengan ilmu kami mampu dan siap untuk meringankan. Dan bagi masyarakat yang benar-benar tidak memiliki dana, kita gratiskan pelatihannya. Kloter sudah terisi 20 orang, dan sudah mulai dilatih di sini. Kami siapkan segala sesuatunya seadanya dengan tulus ikhlas,” ujarnya.

Selain mampu menjadi kesempatan baru untuk bertahan pada masa pandemi, tata rias juga mampu dijadikan wadah untuk melestarikan budaya dengan mengaplikasikan tata rias khas Bali. *git

BAGIKAN