Krisis Air, Kendala Kembangkan Objek Wisata Alam di Karangasem

KRISIS air bersih menjadi momok atau kendala dalam pengembangan destinasi atau objek wisata berbasis alam atau perbukitan dan keindahan di Karangasem.

KRISIS air bersih menjadi momok atau kendala dalam pengembangan destinasi atau objek wisata berbasis alam atau perbukitan dan keindahan di Karangasem. Terlebih,  ke depan dalam pengembangan  objek wisata dalam situasi pandemik covid, khususnya dalam penyediaan air bersih untuk sarana mencuci tangan.

Pengelola objek wisata Villa Mawar di perbukitan Tanah Ampo, Desa Jungutan, Karangasem I Wayan Tista, Selasa (16/6) saat menemui Bupati Karangasem mengatakan, krisis air bersih terutama pada musim kemarau, memang menjadi kendala utama baginya dalam pengembangan objek wisata perbukitan itu. Dikatakan, sebulan saja tidak ada hujan, kesulitan karena tidak ada air. Air bersih diperlukan selain untuk toilet, terlebih pihaknya harus menyiapkan tempat mencuci tangan dengan air mengalir, dalam rangka memenuhi protokol kesehatan memutus penyebaran covid. ‘’Penduduk desa kami memang di tiap rumah memiliki cubang untuk penampungan air hujan. Air hujan itu digunakan untuk keperluan di dapur, konsumsi, mandi cuci dan kakus (MCK), bahkan untuk menyiram tanaman atau taman pada musim kemarau.  Terlebih objek wisata berbasis pemandangan atau keindahan alam yang dikelolanya, berada di atas perbukitan,’’ kata Tista.

Menurutnya, selain di sekitarnya tidak ada mata air, juga kalaupun ada, sulit menarik air ke perbukitan.  Tista yang mengelola objek wisata bersama  50 anggota atau  kepala keluarga (KK) itu, berharap ke depan ada bantuan pemerintah, bagaimana caranya menyediakan air bersih.

Kesulitan karena krisis air bersih serupa, juga dialami pengelola objek wisata Pesona Bukit Lempuyang. Ketua Pengelolanya, Jero Mangku Ketut Cara  mengatakan, ketersediaan air bersih memang menjadi kendala pihaknya sejak dulu, apalagi ke depan dalam rangka penyediaan sarana mencuci tangan di objek wisata, tentunya ketersediaan air bersih, mutlak harus tetap ada, baik untuk di tempat mencuci tangan maupun di toilet. ‘’Pada musim kemarau, tak ada air bersih. Kami membeli air bersih dengan tower yang diangkut  truk. Satu tower harga airnya sampai di lokasi objek wisata yakni di depan Pura Penataran Lempuyang, Rp 100 ribu. Air sebanyak itu, paling lama cukup hanya untuk seminggu,’’ paparnya.

Jero Mangku Cara berharap,  nantinya ada paica (uluran tangan berupa bantuan) dari Pemkab Karangasem atau dari Dinas Pariwisata Karangasem, misalnya berupa mesin untuk menarik air ke atas.

Sementara itu, Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri di depan pengelola objek wisata Wayan Tista mengatakan, hendaknya dicari cara guna memudahkan pengangkutan air ke lokasi objek wisata itu.  Apakah ada jalan yang cukup untuk pengangkutan tangki air bersih. Pasokan air bersih, bisa saja ditampung di dalam cubang atau disediakan tower.

Diakui Bupati Mas Sumatri, warga di Karangasem, memang makin bersemangat membuka atau mengelola objek wisata. Di Desa Jungutan saja, untuk di perbukitan selama ini sudah ada ojek wisata berbasis pemandangan alam, seperti Bukit Surga, Bukit Mimpi, dan Bukit Villa Cemara. *bud

BAGIKAN