Kredit UMKM di TabananTerganjal Jaminan

Potensi serapan kredit yang disalurkan kalangan lembaga keuangan masih besar untuk pelaku usaha kecil atau UMKM di Kabupaten Tabanan.

TERGANJAL JAMINAN - Sejumlah produk hasil UMKM di Tabanan. Pememuhan modal bagi UMKM terganjal jaminan untuk memgakses kredit di lembaga perbankan.

Tabanan (bisnisbali.com) –Potensi serapan kredit yang disalurkan kalangan lembaga keuangan masih besar untuk pelaku usaha kecil atau UMKM di Kabupaten Tabanan. Tapi sayangnya, potensi tersebut terganjal jaminan kredit yang harus dipenuhi sektor usaha kecil, meski UMKM digadang-gadang sebagai penopang pertumbuhan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Ketua International Council For Small Business (ICSB) Kabupaten Tabanan, Bagus Arya Kusuma, S.Sos., M.M., Minggu (6/6) mengungkapkan, potensi serapan kredit permodalan ke kalangan UMKM dari kalangan perbankan cukup besar. Itu seiring meningkatnya jumlah usaha kecil yang ada sebagai dampak dari PHK atau sejumlah perusahaan yang merumahkan karyawan, sehingga mereka akhirnya berwiraswasta dengan membuka usaha sendiri.

Tapi sayangnya, potensi serapan kebutuhan kredit permodalan yang besar tersebut terganjal keharusan jaminan kredit. “Jaminan kredit yang diminta kalangan perbankan ini masih menjadi sandungan bagi sejumlah UMKM selama ini,” tuturnya.

Akui Bagus yang juga Pemilik usaha Padma Medikal Husada (Padma Herbal), terkait permodalan usaha terdampak pandemi ini sejumlah pelaku usaha kecil sudah dibantu dengan program pemerintah melalui Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM). Program ini memang cukup membantu, namun dengan nominal bantuan yang kecil membuat pelaku UMKM yang sudah punya pangsa pasar dan  beroperasi  mau tidak mau tetap mengakses kredit permodalan dari  perbankan untuk optimalisasi kelangsungan usaha.

“Tapi ketika sejumlah UMKM ini mencoba mengakses kredit di lembaga keuangan sebesar Rp50 juta saja sulit baguli mereka. Apa lagi untuk kredit di atas nilai tersebut, pasti pihak bank akan minta jaminan kredit,” kilahnya.

Akibatnya, meski jumlah UMKM selama pandemi ini mengalami pertumbuhan dan tetap bergeliat, tapi kondisinya cenderung seperti jalan di tempat. Artinya, tidak ada perkembangan usaha yang signifikan dari sebelumnya, karena keterbatasan permodalan dan dipengaruhi akibat daya beli konsumen yang turun.

Di sisi lain, terkait perluasan pangsa pasar, UMKM juga sangat membutuhkan pendampingan dalam transformasi ke dunia digitalisasi marketing. Akuinya, UMKM ini sangat butuh praktek. Salah satunya, cara memasarkan produk di marketplace agar viewer nya banyak atau bisa dijangkau lebih luas oleh pasar, sehingga penjualan bisa meningkat.

“Selama ini pendampingan terkait digitalisasi marketing ini cenderung kurang tepat sasaran karena baru sebatas teori saja. Sebab UMKM sudah paham digitalisasi ini harus diadopsi, tapi mereka ini belum paham cara terkait teknis penggunaan teknologi tersebut dalam upaya meningkatkan penjualan,” kilahnya.*man

BAGIKAN