Kopi Jalanan Berkonsep Unik

BEGITU banyak upaya masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19 untuk menyambung hidup.

BEGITU banyak upaya masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19 untuk menyambung hidup. Salah satunya dengan membuka usaha, seperti yang dilakoni Ketut Astika. Dia membuka usaha kecil-kecilan menjual kopi di pinggir Jalan Niti Mandala Renon, Denpasar. Guna menarik minat konsumen, usaha kopi yang dinamai Made Coffee ini menerapkan konsep unik.

Astika mengatakan, berdiam diri selama pandemi dan menunggu situasi membaik, bukanlah sebuah solusi. Untuk itu, ia mengambil kesempatan menjual kopi di pinggir jalan dan menggaet market yang tersedia.

“Bagaimana pun hidup tetap berlanjut. Situasi juga tidak dapat diprediksi kapan akan membaik. Jadi, saya mengambil peluang yang ada saja. Di sisi lain, ide intuk membuka cargo bike coffee ini berawal dari kegemaran saya menikmati kopi dan bersepeda. Sederhananya, saya gabungkan dua hal tersebut jadi satu dan menghasilkan uang. Dulunya, saya bekerja freelance sebagai seorang pramuwisata, namun sekarang kondisi pariwisata seperti ini, sudah tidak bisa diharapkan lagi,” ujar Astika.

Usaha kecil yang memanfaatkan lahan di jalanan ini sudah banyak digandrungi sejak pandemi. Sejauh ini, pemerintah belum melarang masyarakat berjualan di pinggir jalan. Namun untuk keberlangsungan usaha, azas legalitas tentu harus dipatuhi.

“Harapan saya untuk pemerintah agar memberikan tempat khusus bagi masyarakat yang mencoba mencari peluang kecil-kecilan selama pandemi ini. Seperti halnya memberikan tempat yang legal untuk berjualan, karena kalau sampai menyewa, tentunya tidak semua masyarakat memiliki kemampuan tersebut,” ucapnya.

Dikatakannya lebih lanjut, pihaknya tidak hanya memanfaatkan tempat tersebut untuk berjualan. Kebersihan kawasan tetap menjadi perhatian, demikian pula mengenai aspek kesehatan di tengah pandemi.

“Untuk pembeli sendiri juga sudah menyadari mengenai penerapan protokol kesehatan. Tidak ada kerumunan dan pembeli maupun saya sebagai penjual wajib menggunakan masker. Tidak ada market yang spesifik, bagi pecinta kopi dari berbagai kalangan dapat menikmatinya. Harga yang ditawarkan sangat terjangkau dan menyiapkan berbagai macam jenis kopi,” lanjut pria yang akrab disapa Mayong ini.

Setiap harinya Astika mampu menjual 20 sampai 35 cangkir kopi. Mulai dari kopi aabica, robusta, kopi susu dan lain sebagainya. Kesiapan melayani pembeli dari pukul 08.00 – 18.00 Wita. Peluang ini secara tidak langsung menjadi salah satu penolong untuk menambah penghasilan di tengah pandemi. Cargo bike coffee dapat dikatakan usaha kecil baru yang memiliki potensi untuk dikembangkan. *git

BAGIKAN