Konsumsi Masyarakat Berperan Pulihkan Aktivitas Bisnis  

Selain memperhatikan protokol kesehatan (prokes) 3M dalam masa pandemi Covid-19 yang sudah hampir 10 bulan ini, masyarakat sebaiknya jangan menahan konsumsi.

BISNIS – Aktivitas bisnis di Denpasar.

Denpasar (bisnisbali.com) –Selain memperhatikan protokol kesehatan (prokes) 3M dalam masa pandemi Covid-19 yang sudah hampir 10 bulan ini, masyarakat sebaiknya jangan menahan konsumsi. Terlebih lagi, bagi masyarakat yang daya belinya masih kuat.

“Konsumsi dari masyarakat ini akan sangat berperan dalam pemulihan aktivitas bisnis, yang pada akhirnya akan turut berperan dalam pemulihan perekonomian daerah,” kata pemerhati ekonomi dari Undiknas University, Dr. Agus Fredy Maradona di Renon, Rabu (9/12) .

Ia menegaskan, bergeraknya aktivitas bisnis karena konsumsi masyarakat juga akan mencegah terjadinya PHK. Hal ini juga dapat mempercepat ketersediaan pekerjaan bagi masyarakat yang menjadi korban PHK atau dirumahkan akibat pandemi Covid-19.

Tidak hanya itu, penerapan prokes juga harus menjadi pendukung pemulihan aktivitas bisnis, seperti penggunaan masker, jaga jarak, adanya tempat cuci tangan, testing atau pemeriksaan, tracing, treating atau perawatan guna mempercepat penyembuhan dan penanganan penyakit Covid-19. Prokes 3M dan 3T kini menjadi kekuatan untuk melawan Covid-19 dan mendukung pemulihan bisnis, termasuk perekonomian.

Sementara dari sisi bisnis, kata Wakil Rektor IV ini, untuk meningkatkan konsumsi masyarakat penting kiranya bagi pelaku usaha untuk melakukan efisiensi dan inovasi merupakan dua kunci utama dalam masa pandemi ini. Efisiensi ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan stimulus dari pemerintah dan efisiensi biaya kegiatan operasional. “Dengan catatan, sedapat mungkin dilakukan tanpa pemutusan hubungan kerja atau merumahkan karyawan,” ujarnya.

Sementara itu, inovasi sangat diperlukan bagi pelaku usaha guna mampu menghasilkan produk baik barang atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat di masa pandemi ini. Produk inilah yang bisa dijual kepada masyarakat dengan memerhatikan tatanan new normal.

Dr. Agus Fredy Maradona pun berharap penurunan BI rate yang saat ini sudah mencapai 3,75 persen maupun penurunan suku bunga penjaminan oleh LPS dimaksudkan agar dana masyarakat bisa masuk ke sektor konsumtif atau dalam bentuk konsumsi masyarakat maupun sektor produktif dalam bentuk investasi. “Penurunan suku bunga tersebut saya amati telah memberi dampak sesuai yang diharapkan, namun tidak optimal. Sampai dengan triwulan ketiga 2020, masyarakat masih cenderung menahan konsumsi dan pelaku usaha juga masih enggan untuk investasi,” terangnya.

Meski demikian, di akhir tahun 2020 ini konsumsi sudah terlihat tumbuh dan pelaku usaha sudah mulai tampak melaksanakan aktivitas investasi meski masih terbatas.*dik

BAGIKAN