Komisi VII DPR RI Kunjungi Pura Dalem Langgar Desa Bunutin

Dalam rangka menjalankan tugas dan  fungsi Komisi VIII DPR RI yang salah satunya adalah mengenai urusan keagamaan maka, Rabu (18/12) digelar acara kunjungan kerja di Pura Dalem Langgar,

Bangli (bisnisbali.com) –Dalam rangka menjalankan tugas dan  fungsi Komisi VIII DPR RI yang salah satunya adalah mengenai urusan keagamaan maka, Rabu (18/12) digelar acara kunjungan kerja di Pura Dalem Langgar, Desa Bunutin Kecamatan Bangli. Acara yang dipusatkan di Wantilan Pura Dalem Jawa Langgar dihadiri oleh Wakil Bupati Bangli, Komisi VIII DPR RI, Kementerian Agama Provinsi Bali, Kementerian Agama Kabupaten Bangli, tokoh adat dan Pengelola DTW Pura Dalem Langgar.

Wakil Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta, S.E.  menyampaikan selamat datang pada rombongan Komisi VIII DPR RI yang dipimpin oleh Bapak Haji TB. Ace Hasan Syadzilly. “Kami perkenalkan Kabupaten Bangli adalah salah satu kabupaten dan  kawasan konservasi yang tidak memiliki laut namun memiliki danau yang indah dengan hutan yang luas sebagi penyangga air bersih. Selain itu kita juga memiliki Geopark Batur yang pertama kali diakui Unesco, kita punya kopi arabika Kintamani yang juga sudah mendunia. Kita punya juga anjing kintamani sebagai anjing ras asli Kintamani yang telah diakui Asosiasi Pecinta Anjing Dunia sebagai ras dunia,” ungkap Wabup Sedana Arta.
Wabup juga sangat mengapresiasi kunjungan kerja dari Komisi VIII DPR RI karena di tempat ini jelas tampak bagaimana para pendahulu nenek moyang telah mengajarkan kita bagaimana hidup saling menghargai perbedaan.

Ke depan di tengah cobaan-cobaan yang kita alami sejatinya hal itu tidak perlu dipermasalahkan karna sejatinya nenek moyang kita sudah menjalankan kehidupan yang harmonis meski berbeda akan tetapi tetap saling menghargai dan mendukung untuk kemajuan bersama.

“Di tempat ini kita diberikan bukti dan saudara kita yang dari Jawa juga banyak yang sudah datang dan berkunjung untuk mencari jejak leluhur di tempat ini,” tambahnya.

Dengan kunjungan rombongan Komisi VIII di Pura Dalem Jawa Langgar, kali ini bisa menjadi bahan dalam menyusun program untuk peningkatan fasilitas pendukung pelestarian seni budaya khususnya dalam bidang keagamaan yang menjadi warisan leluhur.

Ketua rombongan, Haji TB. Ace Hasan Syadzilly, menyampaikan, urusan keagamaan adalah salah satu tugas dari Komisi VIII DPR RI yang anggarannya cukup lumayan meskipun tidak terlalu besar. “Apresiasi yang setinggi-tingginya atas masyarakat pengelola Pura Dalem langgar ini, adalah hal yang luar biasa buat kami, di mana seteleh sidang perdana Bali adalah kunjungan pertama yang menjadi lokus kami,” katanya.

Komisi VIII memiliki mitra yaitu, Kementerian Agama yang bersinergi untuk urusan keagamaan di tiap provinsi dan kabupaten/kota. Sebelum ini kita juga telah melakukan kunjungan ke salah satu tempat “keramat” di mana di situ juga adalah menjadi pemakaman salah satu keturunan raja yang beragama Islam

Di sini tentu kami juga disuguhkan dengan sebuah perpaduan sebuah langgar dengan Pura, di mana hal ini mencerminkan bahwa betapa sebenarnya leluhur kita dari zaman dahulu telah mecontohkan kehidupan yang harmonis.
Komisi VIII selalu mendorong  pemerintah untuk selalu melakukan moderasi beragama, di mana sikap yang selalu menjaga keharmonisan dan menghargai perbedaan bukan hanya kepada umat Hindu saja akan tepi semua agama baik Islam, Kristen, Katolik dan Budha. Hal itu telah dicontohkan oleh para nenek moyang yang bisa saksikan Ikon dan simbolnya di Pura Dalem Langgar ini.
Ini merupakan modal yang sangat berharga bagi bangsa kita untuk bisa menjadi negara maju kalau kita bisa menjaga dan merawat perbedaan yang kita miliki. Bali tentu sudah sangat terkenal di dunia bahkan lebih dikenal Bali dari Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata yang sangat mempesona bukan hanya pantainya akan tetapi juga masyarakatnya

Hal ini menjadi modal kita dan menjadi kewajiban kami di Komisi VIII untuk bagaimana mendorong dan mendukung upaya menjaga kerukunan umat beragama agar masyarakatnya betul-betul harmonis sehingga bisa mendorong kesejahteraan masyarakatnya.

“Bali selalu menjadi contoh bagi dunia sebagai salah satu daerah yang sangat toleransi hal ini harus terus dijaga dan ketuktularkan ke seluruh wilayah Indonesia sebagai jati diri kebangsaan kita karna Indonesia bukan hanya Jawa tapi juga Bali, Sumatera, Papua, NTB dari Sabang sampai Merauke,” tambahnya.*ita

BAGIKAN