Klub Yoga dan Ashram Dukung Pariwisata Spiritual Karangasem

Kabupaten Karangasem sudah belasan tahun lalu mencanangkan pengembangan pariwisata berbasis spiritual.

YOGA - Komunitas yoga Karangasem datangkan instruktur yoga yang juga artis Anjasmara Prasetya.

Kabupaten Karangasem sudah belasan tahun lalu mencanangkan pengembangan pariwisata berbasis spiritual. Karangasem sejak dulu menolak pariwisata glamor seperti  adanya kafe remang-remang, diskotek atau sejenisnya. Apa yang harus dilakukan agar pariwisata spiritual itu terwujud di bumi Gunung Agung?

SELAIN adanya sejumlah ashram, seperti Ashram Gedong Gandi yang sudah ada puluhan tahun lalu, belakangan juga berkembang komunitas yoga. Ketua Komunitas Yoga di Karangasem, I Wayan Arsiawan Adi mengatakan, beberapa hari lalu saat menjadi narasumber di Radio SWIB FM Karangasem, di Karangasem dalam beberapa tahun ini sudah menjamur klub-klub atau komunitas yoga. Komunitas itu, bahkan sampai ke pelosok desa, di antaranya dari kelompok Ananda Marga, komunitas Kerta Bumi dan dia sendiri bersama sejumlah rekannya mengembangkan Yoga Smile. ‘’Yoga memang harus menjadi gaya hidup. Yoga tidak mengenal agama atau kepercayaan tertentu, tetapi karena menjadi gaya hidup, yang mengikuti pun umum atau lintas agama,’’ paparnya.

Menurut Ariawan Adi yang mengaku menekuni yoga sejak kecil, karena latar belakang dirinya yang sakit sesak nafas sejak kecil, dan kelas 4 SD sempat berhenti sekolah itu mengatakan, memang ashram, tempat pendidikan sikap mental dan komunitas yoga itulah yang perlu dikembangkan di Karangasem. Sebab, Karangasem mengembangkan pariwisata berbasis spiritual. ‘’Jangan sampai ketika selalu ada orang bertanya atau minta penjelasan,  apa itu pariwisata spiritual, ya Pura Besakih. Supaya  jangan jawaban atau penjelasan bahwa pariwisata spiritual itu Pura Besakih atau karena di Karangasem banyak ada pura kahyangan jagat atau sad kahyangan,’’ paparnya.

Menurutnya,  selain kalangan warga lokal, yoga sudah ditekuni kalangan wisman. Karena itu, di Karangasem sudah berkembang sejumlah instruktur yoga, yang membuka kelas untuk wisatawan atau orang asing. Mereka  ada yang membuka kelas yoga di rumah instruktur itu sendiri, ada juga yang membuka kelas di hotel-hotel. ‘’Kami dari komunitas Yoga Smile, juga memiliki kelas yoga untuk orang asing atau wisatawan. Biasanya, kami membuka kelas itu di hotel seperti di kawasan Candidasa,’’ paparnya.

Sementara itu, penekun yoga di Karangasem I Wayan Suartana mengatakan, pihaknya bersama dari sejumlah komunitas yoga, Minggu (9/2) lalu menggelar yoga di Taman Candrabuana, Amlapura. Kegiatan diikuti ratusan peserta, kalangan dewasa, orang tua serta anak-anak dengan instruktur yang hadir pesinetron dari Jakarta instruktur yoga,  Anjasmara Prasetya. Yoga bersama Anjasmara Prasetya, kemarin dibuka Ketua BPC PHRI Karangasem I Wayan Kariyasa. Kariyasa seorang manajer hotel di Candidasa yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata  Daerah (BPPD) Karangasem itu mengatakan,  Karangasem sangat potensial mengembangkan  pariwisata berbasis spiritual.  Pariwisata itu sangat sejalan dengan pariwisata berkelanjutan atau pariwisata yang ramah lingkungan. Dia mengaku sering mengantar turis seperti dari kalangan  biksu dari Thailand yang minta diajak melihat pertanian organik. ‘’Pertanian organik itu juga sangat menarik dan mulai ada yang mengembangkan di Karangasem. Salah satunya di Desa Sibetan, saya beberapa kali pernah mengantar rombongan bhiksu dari Thailand  ke Sibetan dan tempat-tempat lainnya,’’ paparnya.

Di lain pihak, Manajer Operasional Taman Soekasada Oejoeng, Karangasem Ida Made Alit juga mengatakan, sesungguhnya pariwisata spiritual itulah yang cocok dikembangkan di Karangasem. Pariwisata spiritual ke depannya sejalan dengan pengembangan pariwisata yang berkualitas, bukan cuma kuantitas.  Guna berkembangnya pariwisata spiritual, sarana dan prasarana harus ditata dan disediakan. Restoran bertaraf internasional  harus ada, demikian juga di objek yang belum ada tempat parkirnya, harus disediakan. Jalan raya yang masih sempit atau lampu penerangan jalan mesti dilengkapi.  Objek wisata harus ditata, jangan sampai dibiarkan berkembang dan pada akhirnya semrawut. *bud

BAGIKAN