Kinerja Jasa Keuangan Optimis Positif meski Pandemi Berikan Tekanan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat dampak pandemic covid-19 yang relatif mulai memberikan tekanan terhadap sektor jasa keuangan,

Denpasar (bisnisbali.com) –Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat dampak pandemic covid-19 yang relatif mulai memberikan tekanan terhadap sektor jasa keuangan, meskipun dari berbagai indikator dan profil risiko, kondisi stabilitas sistem keuangan sampai saat ini tetap terjaga dengan kinerja intermediasi yang positif.

Kepala OJK Regional 8 Bali Nusa Tenggara, Elyanus Pongsoda mengatakan, secara nasional kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan April 2020 tumbuh sejalan dengan perlambatan ekonomi. “Kredit perbankan tumbuh 5,73 persen yoy, sementara piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tercatat tumbuh 0,8 persen yoy,” katanya.

Dari sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) perbankan tumbuh 8,08 persen yoy. Pada April 2020, industri asuransi berhasil menghimpun pertambahan premi Rp15,7 triliun.
Diakui, sampai 26 Mei 2020, penghimpunan dana melalui pasar modal tercatat mencapai Rp32,6 triliun dengan 22 emiten baru. Sementara profil risiko lembaga jasa keuangan pada April 2020 masih terjaga pada level yang terkendali dengan rasio NPL gross tercatat 2,89 persen (NPL net Bank Umum Konvensional (BUK) 1,09 persen dan Rasio NPF 3,25 persen.

Sementara itu, likuiditas dan permodalan perbankan berada pada level yang memadai. Rasio alat likuid/non-core deposit dan alat likuid/DPK April 2020 terpantau pada level 117,8 persen dan 25,14 persen, jauh di atas threshold masing-masing 50 persen dan 10 persen.

Permodalan lembaga jasa keuangan terjaga stabil pada level yang memadai. Capital Adequacy Ratio BUK tercatat 22,13 serta Risk Based Capital industri asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing 651 persen dan 309 persen, jauh di atas ambang batas ketentuan 120 persen.

Untuk Bali, Elyanus menyampaikan, di tengah situasi pandemi ini, kinerja perbankan terutama untuk bank umum periode April 2020 masih dalam kondisi yang sehat dan kondusif. Aset bank umum tumbuh 5,29 yoy menjadi Rp129,54 triliun.

Penghimpunan dana pihak ketiga seperti giro, tabungan dan deposito juga meningkat 5,7 persen yoy menjadi Rp100,78 triliun. Adapun penyaluran kredit kepada masyarakat tumbuh 5,68 persen yoy menjadi Rp80,89 triliun walaupun mengalami sedikit perlambatan pertumbuhan dibandingkan Maret 2020.
Untuk Loan to Deposit Ratio (LDR) Bali masih dalam batas wajar yaitu 80,25 persen.

“Namun demikian, angka kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) mengalami sedikit peningkatan dibanding posisi Desember 2019 (NPL 2,90 persen) ataupun Maret 2020 (NPL 2,95 persen) menjadi 3,07 persen dan masih dalam batas kewajaran,” ujarnya.

Diharapkan kinerja perbankan Bali baik bank umum maupun BPR periode Mei 2020 juga tetap sehat dan kondusif. Dalam upaya memitigasi dampak pelemahan ekonomi dan menjaga ruang untuk peran intermediasi sektor jasa keuangan, OJK kembali mengeluarkan kebijakan lanjutan dengan merelaksasi ketentuan di sektor perbankan untuk lebih memberikan ruang likuditas dan permodalan perbankan sehingga stabilitas sektor keuangan tetap terjaga di tengah pelemahan ekonomi sebagai dampak pandemi covid-19 yang telah disampaikan OJK sebelumnya.

Diakui OJK senantiasa memantau perkembangan pandemic covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian global dan domestik. OJK juga akan terus menyiapkan berbagai kebijakan sesuai kewenangannya menjaga stabilitas industri jasa keuangan, melindungi konsumen sektor jasa keuangan serta mendorong pembangunan ekonomi nasional. *dik

BAGIKAN