Ketersediaan Babi Jelang Galungan Diyakini Aman        

Menurunnya populasi ternak babi akibat wabah yang menyerang beberapa waktu lalu, memberi kekhawatiran akan minimnya pasokan jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan nanti.

Denpasar (bisnisbali.com) –Menurunnya populasi ternak babi akibat wabah yang menyerang beberapa waktu lalu, memberi kekhawatiran akan minimnya pasokan jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan nanti. Namun turunnya serapan di tengah pandemi Covid-19 diyakini tetap mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ketua Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Bali I Ketut Hari Suyasa saat ditemui, Rabu (2/9) mengatakan, adanya pandemi Covid-19 yang mengarahkan untuk menjaga jarak membuat beberapa kegiatan adat atau keagamaan tidak bisa dilaksanakan. Hal itu berpengaruh terhadap serapan babi yang menurun drastis. “Berbicara masalah stok memang menurun. Namun kalau dibilang kekurangan stok, saya kira tidak karena serapan kecil saat ini. Sebelumnya yang membuat serapan besar itu kan upacara-upacara, sedangkan sekarang upacara sepi,” ungkapnya.

Terkait harga, Hari Suyasa mengatakan harga di peternak saat ini cukup tinggi yang berkisar di atas Rp 35.000 dan di bawah Rp 40.000 per kilogram berat hidup. “Kita berharap mentok hingga Rp 40.000 per kilogram saja, jangan terlalu tinggi biar masyarakat juga menikmati,” ujarnya sembari mengatakan harapannya agar peternak tidak sampai mematok harga terlalu tinggi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, IKG Nata Kesuma. Dia mengatakan populasi babi siap potong saat ini di Bali mencapai 40.000 ekor.

Melihat kebutuhan babi jelang Galungan sebelumnya, Nata Kesuma mengatakan babi yang disiapkan saat Hari Raya Galungan dan Kuningan biasanya mencapai 60.000 hingga 70.000 ekor. “Namun jelang Galungan dan Kuningan kali ini di tengah pandemi Covid-19, serapan tidak banyak, permintaan masyarakat menurun, sehingga stok yang 40.000 ekor itu diyakini cukup,” terangnya.

Kalau pun populasi disiapkan mencapai 70.000, lanjutnya mengatakan namun serapan minim, maka harga babi akan anjlok bisa mencapai Rp 14.000 per kilogram. “Jadi kondisi saat ini cukup manislah, posisi semua pihak diuntungkan. Peternak mendapatkan harga bagus, masyarakat juga tidak membeli terlalu mahal,” jelasnya sembari mengatakan harga babi hidup mencapai Rp 35.000 hingga Rp 36.000 per kilogram. *wid

BAGIKAN