Ketegangan Natuna belum Ganggu Ekspor Manggis Tabanan ke Cina

Situasi di perairan Natuna yang beberapa hari terakhir tegang atau memanas setelah kapal pencari ikan dan coast guard milik Cina atau Tiongkok terpantau berlayar di kawasan tersebut,

Tabanan (bisnisbali.com) –Situasi di perairan Natuna yang beberapa hari terakhir tegang atau memanas setelah kapal pencari ikan dan coast guard milik Cina atau Tiongkok terpantau berlayar di kawasan tersebut, belum berdampak pada perdagangan ekspor manggis dari Tabanan ke negara Tirai Bambu tersebut. Meski begitu, sejumlah eksportir mengaku waswas, mengingat Tiongkok jadi negara terbesar menyerap manggis yang juga disebut sebagai ratu buah ini.

Direktur PT Bagus Segar Utama sekaligus eksportir manggis, I Wayan Artika, di Desa Sanda, Kecamatan Pupuan Tabanan, Senin (13/1) kemarin mengungkapkan, hingga saat ini ketagangan di perairan Natuna belum berdampak pada terganggunya ekspor manggis ke Cina, bahkan dalam waktu dekat ada utusan dari Cina yang akan datang ke Bali untuk melakukan inspeksi, melihat perlakuan buah produksi lokal sebelum diekspor. Selain itu diakuinya, dua hari lalu saat melepas produk ke pasar ekspor tujuan Cina, manggis dari Tabanan masih bisa masuk tanpa kendala.

“Artinya, pihak Cina belum menyikapi ketegangan di perairan Natuna dengan menutup kran impor manggis dari Indonesia, khususnya dari Tabanan,” tuturnya.

Jelas Artika, meski belum mengalami dampak dari ketegangan di perairan Natuna, pihaknya berharap agar hubungan perdagangan antarkedua negara masih terjaga dengan baik, mengingat Cina merupakan konsumen terbesar untuk pasar ekspor manggis. Terlebih lagi Februari nanti di Bali merupakan mulai musim panen untuk manggis. Diakuinya, saat ini rata-rata volume ekspor manggis ke Cina mencapai 300-500 keranjang per dua hari atau 2,5 ton -3,5 ton per dua hari. Peluangnya pada saat musim panen nanti, potensi ekspor akan meningkat signifikan dari sebelumnya.

“Di tempat saya saja sebagai daerah pengembangan tanaman manggis, pada musim panen bisa berproduksi 20-30 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sebagian besar berpotensi masuk dalam komoditi ekspor,” ujar pemilik empat packing house tersebut.

Sambungnya, di Cina harga manggis produksi Tabanan ini di kisaran Rp 100 ribuan per kg, bahkan sempat menyentuh kisaran Rp 180 ribu per kg. Menurutnya, di Cina untuk pangsa pasar manggis memang cukup bagus, bahkan serapannya berada dalam jumlah yang tidak terhingga. Selain itu sebenarnya, Cina memposisikan kualitas produksi manggis dari Bali, khususnya Tabanan terbagus di dunia. Namun masalahnya karena jarak pengiriman yang cukup jauh ke Cina akhirnya dari segi kualitas manggis lokal kalah saing dengan Thailand (negara pesaing).

Sementara itu, di Cina manggis produksi petani lokal ini dimanfaatkan sebagai hidangan buah segar, dan sebagai pelengkap dari persembahan untuk kegiatan upakara. Sebab, filosofi masyarakat Cina adalah menggunakan buah manggis sebagai persembahan merupakan hal yang wajib atau harus ada. Manggis bagi masyarakat Cina dianggap sebagai perlindungan yang disimbukan dari daun mahkota berbentuk telur terbalik terdapat pada buah manggis.

“Simbul itu pula yang kemudian membuat bahwa daun mahkota pada buah manggis untuk ekspor ke Cina harus lengkap atau jadi salah satu syarat yang diminta pasar ekspor,” tandasnya. *man

BAGIKAN