Kesulitan Terapkan ”Social Distancing”

Jumlah kasus positif covid-19 di Kota Denpasar belum menujukkan penurunan yang signifikan dan transmisi lokal masih menjadi penyebab utama.

ANTISEPTIK - Pintu masuk Pasar Badung dengan bilik antiseptik dan tempat cuci tangan.

Denpasar (bisnisbali.com) –Jumlah kasus positif covid-19 di Kota Denpasar belum menujukkan penurunan yang signifikan dan transmisi lokal masih menjadi penyebab utama. Pasar tradisional tentu menjadi salah satu sorotan, mengingat kerumunan yang diciptakan.

Saat dilakukan pantauan di beberapa pasar tradisional di Kota Denpasar, penerapan protokol kesehatan (prokes) dari pengelola pasar tampak sudah diilakukan. Hal ini dilihat dari adanya fasilitas yang disediakan. Seperti bilik antiseptik di setiap pintu masuk, tempat cuci tangan yang makin banyak, pembatas plastik di area pedagang hingga penjagaan. Namun, ada beberapa yang tampak masih sulit didisiplinkan yaitu social distancing baik oleh pengunjung ataupun pedagang.

Seperti yang tampak pada aktivitas di Pasar Kereneng, Senin (6/7) pagi hari. Kerumunan masih terjadi serta jaga jarak sering dilupakan. Hal ini juga tampak terjadi di Pasar Badung. Meski kunjungan tidak terlalu banyak, terdakang pengunjung dan pedagang sesekali kebablasan dalam menjaga jarak.

Pengelola Pasar Kereneng,  Ni Made Tantri mengatakan, pihaknya telah berusaha maksimal memperketat penerapan protokol kesehatan. Tempat cuci tangan juga terus ditambah serta wajib masker yang lebih didisiplinkan. Namun, diakuinya memang ada kendala dalam pengaturan social distancing terutama bagi pengunjung pasar. “Kalau pedagang sudah berusaha kita atur, dengan memberikan garis tempat berjualan. Namun pengunjung agak susah. Jadi kami harus terus pantau berkeliling dengan menggunakan pengeras suara untuk mengingatkan masyarakat,” jelasnya.

Dikatakan Tantri, perlu adanya kesadaran diri masyarakat dalam disiplin menerapakan protokol kesehatans sehingga dengan ada atau tidaknya petugas imbauan tetap dijalankan.

Hal senada juga diungkpan oleh Pengelola Pasar Badung, I Gusti Made Estuasa. Pihaknya mengaku sudah berupaya optimal untuk memperketat protokol kesehatan di Pasar Badung. Demikian juga penjagaan di setiap pintu masuk Pasar Badung. Selain bilik antiseptik, pihaknya juga melakukan penyemprotan manual di pintu-pintu yang tidak ada bilik aptiseptik.

Dia mengatakan cukup kewalahan dalam mengatur aktivitas di pasar. Pihaknya pun sudah wanti-wanti dalam mengimbau pedagang ataupun pengunjung dan pelaku pasar lainnya. “Jangankan itu, memakai masker saja masih banyak yang salah, sehingga kami harus selalu mengingatkan dan membuatkan aturan beserta sanksi. Jika salah sampai 2 kali, kami tidak izinkan berjualan hari itu juga,” imbuhnya. *wid

BAGIKAN