Kendalikan Harga saat Panen, Salak Diolah Jadi Produk Kaya Nutrisi  

Petani salak di Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, sudah mulai melakukan pengolahan pascapanen untuk mengendalikan harga saat panen raya.

Amlapura (bisnisbali.com) –Petani salak di Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, sudah mulai melakukan pengolahan pascapanen untuk mengendalikan harga saat panen raya. Produk olahan yang dibuat juga tak sembarang dan kaya manfaat bagi kesehatan tubuh karena kaya antioksidan dan vitamin.

Ketua Agro Abian Salak, Sibetan, Bebandem, Karangasem, Nyoman Mastra mengatakan olahan buah salak mulai dibuat karena tiap musim panen raya, harga jual salak Bali di daerah Sibetan  terjun bebas, bahkan pernah menyentuh harga Rp1.000 per kilogram. Kondisi ini menjadi latar belakang, petani salak melakukan pengolahan pascapanen agar harga salak dapat dikendalikan.

Dengan membentuk kelompok wanita tani (KWT) buah salak diolah menjadi beragam  produk seperti teh salak, kurma salak, cuka salak dan kopi salak. “Semua bagian buah salak dapat kami olah mulai dari buah, biji dan juga air yang dikeluarkan buah salak dapat menjadi produk pangan yang kaya nutrisi. Bahkan produk kami sudah dilakukan uji laboratorium untuk mengecek kandungan nutrisinya,” tuturnya. Olahan dari buah salak sangat kaya antioksidan, vitamin C dan juga mineral lainnya.

Untuk membuat kurma salak, dikatakan membutuhkan proses panjang yaitu buah salak disangrai 4 jam sampai mengering dan mengecil. Olahan yang kaya vitamin C dan antioksidan ini memiliki citarasa manis sedikit asam. “Dari proses pembuatan kurma ini ada air yang tersisa. Air salak ini dapat diolah lagi menjadi madu salak yang juga kaya antioksidan dan vitamin,” ungkapnya.

Selain itu buah salak juga diolah menjadi cuka. Dibandingkan cuka apel, kandungan antioksidan dalam cuka salak jauh lebih tinggi dan kandungan nutrisi lainnya juga lebih tinggi. Cuka salak bagus untuk pencegahan diabetes.

Sementara kopi dari biji salak memiliki khasiat untuk pengobatan penyakit seperti hipertensi, asam urat, asam lambung, jantung, kolesterol dan lainnya. Dengan kandungan kafein yang  rendah, kopi salak baik dikonsumsi orang yang memiliki penyakit maag.

Buah salak juga dapat diolah menjadi teh salak. “Tidak semua orang suka minum kopi, makanya kami membuat produk substitusi sebagai pengganti kopi namun juga memiliki manfaat bagi kesehatan. Kalau orang yang tidak minum kopi, biasanya pasti suka teh. Jadi kami buat teh salak,” katanya.

Mastra berharap petani salak tidak lagi menjual buah segar saja, tapi bisa melakukan pengolahan terhadap buah yang diproduksi. Dengan demikian saat panen raya buah salak tidak banyak terbuang, harga buah segar juga tidak anjlok. “Target kami hanya 50 persen salak dijual segar dan 30 persen diolah menjadi berbagai produk olahan serta 20 persen terjual di agrowisata saat wisatawan datang berkunjung,” tandas Mastra, sambil mengatakan berharap dukungan dari pemerintah untuk pengembangannya.

Harga yang ditawarkan untuk produk olahan salak ini cukup mahal. Untuk kopi salak dibanderol Rp50 ribu per 100 gram. Teh salak Rp20 ribu, kurma salak per kemasan Rp10 – Rp20 ribu.*pur

BAGIKAN