Kematian Babi di Tabanan masih Terus Bertambah

Hingga kini angka kematian babi di Kabupaten Tabanan yang diduga akibat virus ASF terus bertambah.

Tabanan (bisnisbali.com) –Hingga kini angka kematian babi di Kabupaten Tabanan yang diduga akibat virus ASF terus bertambah. Kondisi tersebut berdampak makin menurunnya angka populasi babi di daerah lumbung pangan ini.

“Pasca-Galungan dan Kuningan lalu angka kematian babi ini terus bertambah, namun saat ini kami pastinya belum bisa mendata berapa jumlah populasi babi yang masih tersisa. Sebab dari data populasi awal dengan total mencapai 75.626 ekor sebelum momen hari raya, dari data tersebut belum terdata berapa banyak jumlah babi yang terjual. Selama ini, kami hanya mendapatkan data jumlah kematian babinya saja,” tutur Kabid Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Made Suamba, di Tabanan, belum lama ini.

Kasi Keswan bidang peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Drh., Ni Nengah Pipin Windari, menambahkan, sebelumnya angka kematian babi secara mendadak di Kabupaten Tabanan pada akhir Januari 2020  mengantongi angka mencapai 537 ekor, di pertangahan Februari angka kematian babi bertambah menjadi 562 ekor, dan kini per 9 Maret 2020 jumlah kematian babi secara mendadak ini bertambah lagi dengan mencapai 3.602 ekor. Prediksinya, kemungkinan jumlah tersebut kembali akan bertambah lagi mengingat kematian babi terus terjadi dan terus dilakukan pendapataan sekaligus sosialisasi di lapangan selama ini.

Sambungnya, kematian babi di lihat dari wilayah masih terjadi di kecamatan yang memang sebelumnya mengalami wabah yang sama. Seperti, Kecamatan Marga, dan  Kecamatan Penebel.

“Keluhan terus berlanjutnya kematian babi ini selalu diutarakan peternak pada saat dinas melakukan sosialisasi di lapangan. Selain itu, peternak juga mengeluh tentang biaya penguburan babi yang harus ditanggung,” ujarnya.

Katanya, tidak saja peternak yang mengeluh atas kematian babi mereka, peternak yang masih memiliki babi hidup dan sehat juga mengeluh sekarang ini. Sebab, peternak tersebut susah menjual babi mereka (peternak) dengan harga yang sepantasnya kepada para saudagar, mengingat ada oknum saudagar yang memanfaatkan momen untuk membeli babi milik peternak ini dengan harga semurah-murahnya, bahkan tidak jarang harga babi hidup dengan kualitas sehat ini diminta oleh saudagar hampir sama dengan harga babi hidup yang sakit. *man

BAGIKAN