Kematian Babi Berlanjut, Ini yang Dilakukan Pemerintah  

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Dr. Drh. IKG Nata Kesuma, MMA. mengatakan, kasus kematian babi di Bali masih berlanjut.

Denpasar (bisnisbali.com) –Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali Dr. Drh. IKG Nata Kesuma, MMA. mengatakan, kasus kematian babi di Bali masih berlanjut. Untuk menekan jumlah kematian dan mencegah penyebaran, edukasi kepada peternak babi terus digencarkan, ke kabupaten/ kota.

Dikatakan, data terakhir per 21 Februari 2020 kembali terjadi kematian babi yang diduga karena virus african swine and fever (ASF) di dua kabupaten. Di Bangli ada kematian babi yang diduga ASF 16 ekor dan di Karangasem 18 ekor. Dengan demikian, total kematian babi di Bali sejak virus yang belum diketahui tersebut merebak  yaitu pada Desember 2019 mencapai 933 ekor.

Data perkembangan situasi penyakit wabah babi tersebut dikatakan angkanya sangat dinamis dan terus di-up date setiap saat sesuai dengan data yang masuk melalui sistem informasi respons cepat Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali dan dinas yang menangani fungsi kesehatan hewan kabupaten/kota sampai ke tingkat lapangan. “Kalau data dihasilkan oleh suatu sistem informasi yang sudah terkoordinir oleh yang memiliki kewenangan,  itulah data yang bisa dipertanggungjawabkan,” tandasnya.

Masyarakat diberi ruang untuk berpartisipasi terhadap kejadian wabah dengan cara melaporkan kepada petugas terdekat. Hal ini diatur dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009, pasal 45, bahwa setiap orang, peternak atau perusahan di bidang peternakan yang mengetahui kejadian penyakit hewan menular, wajib melaporkan kepada dokter hewan berwenang di wilayah setempat.

Terkait simpang-siurnya angka kematian babi yang beredar di masyarakat, pihaknya mengimbau agar masyarakat menghindari berpendapat dengan asumsi sendiri tanpa data dan sistem informasi yang jelas serta kapasitas, sehingga menghasilkan statemen atau pendapat yang mengambang dan data diragukan.  “Daripada berdebat tentang data lebih baik fokus dengan tugas sesuai kapasitas dan kepakaran masing-masing, perankan diri untuk kepentingan peternak yang lebih luas. Saat ini Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, tengah fokus mengedukasi peternak cara memutus mata rantai penyebaran virus ini,” tukasnya.

Data kematian babi terbanyak terjadi di Kabupaten Badung yaitu 598 dan 692 babi yang sakit. Tabanan babi yang sakit 244 dan mati 219 ekor. Denpasar babi sakit 95, mati 47 ekor, Gianyar babi sakit 51 dan mati 35 ekor. Karangasem mati 18 dan di Bangli babi yang mati 16 ekor.

Diingatkan, untuk mencegah makin meluasnya virus tersebut hanya peternak yang bisa melakukan dengan melaksanakan biosecurity secara ketat. Selain itu pihaknya belum harap tidak ada perdagangan babi dari wilayah yang terjadi virus ke daerah yang belum terkena virus. *pur

BAGIKAN