Kelola Sampah di Hulu, Budayakan Peduli Sampah

Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, Selasa (11/2) dalam rapat konsultasi PKK Tingkat Provinsi Bali mengatakan  pentingnya pengolahan sampah berbasis sumber, jadi satu wilayah dengan wilayah lainnya tidak saling memindahkan sampah yang diproduksinya.

Denpasar (bisnisbali.com) –Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, Selasa (11/2) dalam rapat konsultasi PKK Tingkat Provinsi Bali mengatakan  pentingnya pengolahan sampah berbasis sumber, jadi satu wilayah dengan wilayah lainnya tidak saling memindahkan sampah yang diproduksinya. Dengan demikian kesadaran peduli sampah harus dijadikan budaya.

“Jika produksi sampah itu dari rumah kita, ya jangan dibawa ke rumah orang lain. Jika sampah itu adalah milik kabupaten kita, ya jangan dibawa ke kabupaten/ kota lain karena mereka bukan tempat penampungan yang selalu siap untuk mencium bau busuk sampah yang datang dari wilayah luar, ” ungkap Ny. Putri Koster.

Regulasi pengolahan sampah harus jelas dan terukur dengan melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik, mengingat tidak semua sampah dapat diolah menjadi pupuk. Hal ini diharapkan menjadi perhatian serius bagi semua pihak, mengingat pengolahan sampah juga sudah di atur ke dalam PERGUB Bali Nomor 47 Tahun 2019 Tentang pengelolaan sampah berbasis sumber.

Salah satunya mensosialisasikan penyediaan tempat sampah yang terpilah dan menggunakan sarana tempat sampah yang dikembangkan di desa/ komunitas masyarakat, yakni pemisahan sampah daun dan plastik. Pemilihan pemindahan sampah plastik bisa di lanjutkan ke bank sampah yang disiapkan pada satu titik per kabupaten/ kota atau wilayah yang memilikinya.

“Sampah itu paling dekat di rumah tangga dan yang berkecimpung biasanya ibu – ibu. Jadi pengolahan sampah dari rumah tangga ini sangat penting. Masalah sampah, adalah masalah kita semua. Jangan hanya dibebankan kepada pemerintah. Yang bikin sampah itu warga, Pemerintah yang menyelesaikan  masalahnya sehingga tidak selesai dia dan itu menjadi bom waktu,” tukasnya.

Perannya PKK itu kan ada di tiap wilayah di sumber penyakitnya. Di tiap desa ada ketua PKK nya jadi harus bersinergis dengan kepala desa untuk menanggulangi masalah sampah.  Dengan begitu seberapa pun sampahnya tidak keluar dari desa dan mengotori desa lain.

“Jadi sampah bukan dipindah tapi dienyahkan (disirnahkan) di daerah munculnya sampah itu. Sehingga kedepannya ketika kita merasa bertanggung jawab dengan sampah, kita jadi berpikir untuk tidak membuat sampah banyak – banyak terutama yang tidak bisa diolah lagi. Kalau yang organik bisa jadi pupuk organik, tapi sampah plastik karena sulit dilebur dan harus diolah lagi maka kurangi penggunaan barang – barang  yang  dibungkus dengan plastik sekali pakai,” tandasnya.

Kalau konsumsi berkurang pasti produsennya akan berusaha mencari solusi untuk mengganti kemasannya dengan barang – barang yang mudah hancur. “Ini sinergitas yang harus dilakukan dalam menanggulangi sampah,” pungkasnya.*pur

BAGIKAN