Kecuali Bawang Putih, Produksi Bahan Pangan di Bali Surplus

Dibandingkan jumlah konsumsi, produksi bahan pangan khususnya yang menjadi kebutuhan pokok di Bali surplus, kecuali bawang putih.

MINUS - Berdasarkan data 2020, ketersediaan bawang putih di Bali minus 6.475  ton di mana produksi di Petani hanya 1.340 ton, sementara konsumsi  mencapai 7.815 ton.

Denpasar (bisnisbali.com) –Dibandingkan jumlah konsumsi, produksi bahan pangan khususnya yang menjadi kebutuhan pokok di Bali surplus, kecuali bawang putih. Hal tersebut dilihat dari data neraca pangan utama di Bali tahun 2020.

Kabid Ketersediaan Distribusi dan Cadangan Pangan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Suta, Rabu (5/5) kemarin, menjelaskan, produksi bawang putih oleh petani di Bali minim. Hal ini dikarenakan biaya produksi yang mahal ditambah harga bawang putih impor murah. “Jika petani menanam bawang putih, merugi. Jadi yang menanam kian berkurang,” ungkapnya.

Berdasarkan data 2020, ketersediaan bawang putih di Bali minus 6.475  ton. Produksi di Petani hanya 1.340 ton. Sementara konsumsi bawang putih baik untuk rumah tangga dan non rumah tangga mencapai 7.815 ton. Selain bawang putih, komoditi bahan pangan utama di Bali dikatakannya surplus sehingga bisa mencukupi kebutuhan masyarakat di Bali.

Mulai dari beras yang tercatat surplus 123 ribu ton lebih (kalkulasi tahun 2020). Dikatkannya produksi petani untuk beras mencapai 551 ribu ton, sementara konsumsi rumah tangga dan non rumah tangga mencapai 427 ribu ton (asumsi konsumsi 99,04 kilogram per kapita per tahun). Kemudian bawang merah surplus 2.952 ton, cabai besar surplus 593 ton, cabai rawit surplus 22.739 ton, daging sapi surplus 5.230 ton, daging ayam ras surplus 21.998 ton, telur ayam ras surplus 11.192 ton dan daging babi surplus 3.359 ton.

Disinggung soal ketersediaan bahan pangan jelang Hari Raya Idul Fitri mendatang, Suta mengatakan tercukupi, sehingga tidak akan terjadi gejolak harga yang berlebih. Termasuk cabai yang sebelumnya sempat melambung, dikatakannya saat ini sudah turun. “Kenapa tinggi (harga cabai)? Petani sebenarnya sudah mengupayakan kapan akan harga tinggi, hanya saja karena hujan tanamannya banyak mati,” terangnya. *wid

BAGIKAN