Kebijakan Pemerintah Jangan Rugikan UMKM

Kebijakan pemerintah khususnya Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang kini masuk skala mikro diharapkan tidak sampai merugikan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Denpasar (bisnisbali.com) –Kebijakan pemerintah khususnya Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang kini masuk skala mikro diharapkan tidak sampai merugikan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Jika hal itu terjadi, justru akan memperburuk kondisi ekonomi.

Pemerhati ekonomi, Dr. Agus Fredy Maradona, di Denpasar, Minggu (14/2) kemarin, mengungkapkan bila mengutip pernyataan Presiden Jokowi, PPKM tahap III diberlakukan karena PPKM I dan PPKM II belum efektif menekan kasus Covid-19. Oleh karena itu, yang berubah seharusnya kesadaran masyarakat.

Ditegaskannya, perilaku masyarakat masih sama dalam PPKM I dan II sehingga tidak signifikan membawa perubahan. “Apabila ingin efektif perilaku, perilaku masyarakat harus diubah sehingga dapat menekan covid,” sarannya.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, bila PPKM belum bisa memberikan peluang membuka pariwisata terutama skala nasional maupun mancanegara, maka kondisi akan sama saja. Yang perlu dipikirkan saat ini adalah UMKM. Jangan sampai PPKM malah merugikan di sektor tersebut. PPKM jangan sampai merugikan kesempatan UMKM bergerak. Pembatasan jam usaha contohnya, itu mematikan UMKM yang mulai bergerak dan akan kontradiktif dengan penyelamatan ekonomi.

“Jam usaha UMKM dibatasi agar tidak ada aktivitas berkerumun. Bila tujuannya menghindari kerumunan maka usaha pagi maupun malam seharusnya pemberlakuannya sama,” ucapnya.

Bila tujuan membatasi jumlah orang berkerumun, sebaiknya dirahkan ke digital. UMKM tetap bisa buka hanya saja transaksi dilakukan lewat online. Sebab, banyak pelaku UMKM beroperasi malam hari. Ia pun berharap UMKM tetap mendapatkan bantuan dari otoritas pemerintah maupun lembaga terkait. Bantuan pemerintah sangat berarti bagi UMKM baik itu dalam bentuk pinjaman maupun bansos. Termasuk mendapatkan perlindungan dalam melakukan usaha. “Berikan mereka kesempatan dan dilindungi dari sisi regulasi tanpa mengabaikan protokol kesehatan,” kata Agus Fredy Maradona.

Dijelaskannya lebih lanjut, sektor pariwisata menjadi penopang ekonomi Bali. Tidak heran bila sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi penyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tertinggi Pulau Dewata. Sayangnya selama pandemi Covid-19, porsi besar pendukung basis PDRB Bali ini tidak aktif. “Bila basis PDRB ini tidak aktif maka secara tidak langsung pertumbuhan ekonomi Bali akan bergeming atau tidak bergerak juga,” katanya.

Wakil Rektor IV Undiknas University ini mengatakan, walaupun sempat dialihkan ke konsumsi rumah tangga, hal itu tidak juga cukup karena pasar utama berasal dari wisatawan mancanegara. Karena itu ia menekankan pertumbuhan ekonomi Bali bisa tumbuh tentu dengan dibukanya sektor pariwisata. Sektor pariwisata bisa dibuka sudah tentu setelah kasus Covid-19 bisa ditekan dengan ketat menerapkan protokol kesehatan.

Kendati demikian, Fredy Maradona optimistis ekonomi Bali pada 2021 masih bisa berpeluang bertumbuh. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, pada 2020 di kuartal 1 pertumbuhan ekonomi Bali minus 1,2 persen, kuartal II kembali terkontraksi dengan besaran minus 11,06 persen, kuartal III terkontraksi 12,32 persen dan kuartal IV pertumbuhan ekonomi terkontraksi 12,21 persen. “Kami melihat pada triwulan I 2021 pertumbuhan ekonomi akan lebih baik dibandingkan triwulan IV 2020 karena aktivitas keonomi mulai bergerak,” ujarnya.

Namun, secara year on year atau dibandingkan periode sama 2020, maka triwulan I 2021 pertumbuhan masih relatif lebih kecil. Artinya, pertumbuhan ada pada triwulan I 2021 hanya saja untuk pencapaian angka positif, ekonomi masih ada kontraksi.

Prediksi secara keseluruhan hanya bisa dilakukan jika ada penjelasan soal penanggulangan Covid-19. Bila kasus tidak menurun atau penanggulangannya tidak ada kejelasan nantinya secara year to year hasil di akhir tahunnya akan negatif. Begitu pemerintah memberikan kelonggaran di sektor pariwisata maka di sanalah mulai pertumbuhan ekonomi Bali. “Kuncinya ada di sektor pariwisata,” tegasnya.*dik

BAGIKAN