KUNJUNGAN - Edi purnawan (kiri) disela-sela kunjungan ke penangkaran tyto alba uma wali untuk Tani

Tabanan (Bisnis Bali) – Kementerian Pertanian (Kementan) RI mendorong pengembangbiakan burung hantu di setiap kabupaten/kota di Bali. Hal tersebut dinilai sebagai cara efektif dan memiliki risiko rendah terhadap lingkungan, sekaligus selaras dengan pengembangan sektor pertanian organik di Provinsi Bali dan konsep pengendalian hama terpadu di kementerian.

Demikian diungkapkan Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Edi Purnawan, di sela-sela kunjungannya ke penangkaran Tyto Alba Uma Wali untuk Tani yang merupakan konservasi burung hantu di Banjar Pagi, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Tabanan, Sabtu (12/12).

Pada kesempatan tersebut, Edi Purnawan mengungkapkan, secara nasional hama tikus menjadi OPT nomor satu yang menyebabkan kerusakan sawah. Secara nasional tingkat serangan hama tikus bisa mencapai 100 ribu hektar per tahun, bahkan beberapa menyebabkan puso. Sebab itu, dalam upaya menjaga produktivitas pangan nasional, upaya pengendalian hama tikus ini menjadi sangat penting untuk dilakukan.

Menurutnya, selama ini Kementan untuk perlindungan tanaman pangan mengedepankan konsep pengendalian hama terpadu. Salah satunya dengan memanfaatkan tyto alba (burung hantu) sebagai pemangsa alami dari hama tikus. “Kami mendorong dan membantu dengan pengembangan konservasi musuh alami tikus yang tujuannya untuk menjaga populasi burung hantu agar aman, sehingga musuh alami itu bisa mengendalikan hama di masing-masing wilayah,” tuturnya.

Menurut Edi, di Bali sesuai dengan pengembangan sektor pertanian organik, upaya pemanfaatan burung hantu ini menjadi sangat selaras dalam pengembangan program tersebut karena non-kimiawi, sehingga rendah terhadap dampak lingkungan. Terpenting lagi, pengembangan konservasi burung hantu di masing-masing wilayah ini akan membuat biaya produksi pertanian menjadi bisa ditekan.

Lebih lanjut disampaikan, di Bali ada beberapa konservasi burung hantu yang sudah dibantu dari program Kementerian Pertanian. Salah satunya di penangkaran Tyto Alba Uma Wali di Tabanan dengan kegiatan yang istilahnya mengkarantina burung hantu untuk bisa dikembangbiakan dan melatih agar bisa mengendalikan hama tikus ketika nanti dilepasliarkan. Harapannya, Kabupaten Tabanan bisa menjadi embrio untuk kemudian bisa dikembangkan juga di kabupaten/kota lainnya di Bali sebagai upaya mengendalikan tikus di wilayah masing-masing.

Sementara itu, I Made Jonita sebagai pengelola konservasi burung hantu Tyto Alba Uma Wali untuk Tani mengungkapkan, beberapa tahun belakangan ini burung hantu dipercaya sebagai pemburu hama tikus yang kerap menyerang lahan pertanian petani Tabanan. Cara ini terbukti efektif karena sudah diterapkan di sejumlah wilayah di Tabanan, bahkan luar Tabanan.

Paparnya, konservasi burung hantu ini mulai dilakoni 2015 lalu dan pada tahun yang sama di bulan November sudah melepasliarkan 8 ekor burung hantu. Dari jumlah tersebut kemudian berkembang di alam terbuka (sawah), namun sayang beberapa anakan dari burung hantu ini ternyata banyak yang mati, karena indukan yang tidak mampu mengurus anak-anak mereka. “Dari kondisi itu kemudian anakan burung hantu ini kami adopsi, besaran dan dilepasliarkan ketika mereka siap,” tandasnya.

Hingga saat ini upaya konservasi yang juga mendapat bantuan dari Kementerian Pertanian ini sudah ada puluhan ekor burung hantu yang sudah dilepasliarkan, termasuk yang diberikan kepada kelompok tani lainnya untuk dilepasliarkan. Di antaranya, di Subak Bengkel Kediri, Wongaya Gede, dan beberapa tempat lainnya, bahkan juga sudah sempat melepasliarkan ke Klungkung dan Gianyar. “Ketika dewasa setiap ekor burung hantu memiliki wilayah kekuasaan teritorial. Teritorialnya biasanya mencapai 10 hektar atau 1 kilometer persegi,” tegasnya.

Selama melakukan penangkaran, burung hantu ini dilatih untuk makan tikus. Pelatihan bahan makanan merupakan faktor yang sangat penting sebelum dilepasliarkan. Sebab, ketika memperoleh burung hantu yang memang sudah dewasa dan sebelumnya memang terlatih untuk memakan anak ayam atau lainya tidak akan menjamin bisa efektif menekan hama tikus, karena burung hantu ini berburu sesuai dengan apa yang dilatih.

“Sebelum dilepas, burung hantu ini dibiarkan karantina di rubuha terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk belajar mengenal situasi sebelum akhirnya berburu di alam bebas,”pungkasnya.*man

BAGIKAN