Karantina dan Perkuat Higienitas, Upaya BI Perkecil Uang Beredar Tertular Virus

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali terus mendorong penggunaan transaksi nontunai di masyarakat melalui digital QR Indonesian Standard (QRIS) dalam upaya meminimalisir penyebaran virus corona melalui uang tunai. Tidak hanya itu,

Denpasar (bisnisbali.com) –Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali terus mendorong penggunaan transaksi nontunai di masyarakat melalui digital QR Indonesian Standard (QRIS) dalam upaya meminimalisir penyebaran virus corona melalui uang tunai. Tidak hanya itu, BI Bali juga melakukan karantina uang selama 14 hari agar uang yang beredar steril.

Kepala Kantor Perwakilan BI Bali, Trisno Nugroho di Renon, Selasa (14/7) mengatakan, BI melakukan langkah-langkah untuk memperkecil kemungkinan uang rupiah yang didistribusikan membawa penularan virus yaitu melalui pengolahan khusus seperti melalukan karantina uang selama 14 hari terhadap setoran uang yang diterima dari perbankan/PJPUR. Tidak berhenti di situ, proses karantina dilanjutkan dengan proses penyemprotan disinfektan sebelum dilakulan pengolahan dan didistribusikan kembali ke masyarakat.

“BI juga memperkuat higeinitas dari SDM dan perangkat yang digunakan dalam pengolahan uang rupiah. Terakhir melakukan koordinasu dengan perbankan/PJPUR untuk menerapkan pengolahan uang rupiah yang memperhatikan aspek K3 (keamanan, kesehatan dan keselamatan kerja) baik dari sisi SDM maupun perangkat pengolahan rupiah,” katanya.
Seberapa besar penyebaran covid-19 dari uang tunai?. Trisno menerangkan penyebaran pandemi berasal dari droplet yang bisa menempel dipermukaan benda termasuk uang dan dapat bertahan pada selama berhari hari. Menurut WHO, penyebaran melalui uang tunai sangat mungkin terjadi karena uang tunai dengan cepat berpindah dari satu orang ke orang lain sehubungan dengan transaksi yang dilakukan.

Di tengah covid-19 masyarakat sebaiknya meminimalisir penggunaan uang tunai dan beralih ke nontunai terutama yang bersifat contactless. “Apabila bertransaksi dengan uang tunai sebaiknya tidak bersentuhan langsung dengan uang dan apabila bersentuhan harus segera mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sesuai dengan protokol covid,” sarannya.
Ia pun menyebutkan ke depan uang tunai masih tetap akan digunakan sebagai alat pembayaran.Di berbagai negara lain pun kondisnya sama yaitu saling melengkapi, dan di Indonesia dengan wilayah luas dengan penduduknya beragam latar belakang pendidikan. “Secara bertahap perkembangan pembayaran nontunai akan berdampingan dengan tunai,” ucapnya.

Untuk itu Trisno menilai kesadaran masyarakat akan pentingnya manfaat digitalisasi harus ditingkatkan. Digitalisasi tidak bisa dihindari di tengah era tatanan kehidupan baru saat ini setelah covid-19 menyebar. Semua area kehidupan terdampak langsung, masyarakat harus menyadari bahwa agar meminimalisir penyebaran maka masyarakat harus menjaga physical distancing salah satunya dalam hal transaksi sebaiknya beralih ke contactless payment yang berbasis digital seperti QRIS.
“Kemudahan yang ditawarkan oleh digitalisasi adalah keniscayaan yang akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat,” paparnya.

Edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terus di lakukan oleh BI dan juga Industri perbankan untuk menggunakan pembayaran nontunai. Di Bali, per 3 Juli 2020, jumlah merchant QRIS telah mencapai 101.200 merchant meningkat 297 persen dibandingkan 1 Januari 2020, dan selama pandemic Covid-19 meningkat hingga 53 persen dibandingkan jumlah merchant pada awal Maret 2020 mencapai 65.948 merchant.*dik

BAGIKAN