Kakao Lokal Hasilkan Cokelat Berkualitas

INDONESIA merupakan penghasil kakao terbesar ketiga di dunia. Tapi, kebanyakan hasil perkebunan kakao di Indonesia diekspor untuk kemudian diolah menjadi cokelat berkualitas.

INDONESIA merupakan penghasil kakao terbesar ketiga di dunia. Tapi, kebanyakan hasil perkebunan kakao di Indonesia diekspor untuk kemudian diolah menjadi cokelat berkualitas. Ironisnya, orang Indonesia jika ingin mengkonsumsi cokelat berkualitas, harus impor dari Eropa.

Melihat peluang bisnis ini, Eka Susanti, owner Delicacao mencoba membuka bisnis cokelat dengan bahan lokal asli Bali. Dia melihat di Bali cukup banyak perkebunan kakao. Potensi ini jika digarap maksimal akan dapat memberikan keuntungan tidak saja bagi bisnisnya namun juga petani dan pengembangan kakao di Bali.

“Hasil petani kakao khususnya yang ada di Tabanan nanti bisa diserap di Bali, tidak selalu diekspor ke Eropa. Saya memulai bisnis cokelat Delicacao ini sekitar 6 tahun yang lalu. Untuk pemasarannya hanya di supermarket yang ada di Bali. Kebanyakan yang mengkonsumsi cokelat Delicacao ini memang dari wisatawan asing, tapi lokal juga ada,” ujar Eka.

Untuk memproduksi cokelat yang enak, Delicacao hanya menggunakan biji kakao dicampur dengan gula. Tidak ada tambahan campuran lainnya. Dengan demikian, cokelat diproduksinya memiliki kualitas super premium. “Kami juga tidak pernah memakai bahan pewarna, pengawet dan penyedap rasa yang bisa membuat penampilan cokelat lebih menarik,” tegasnya.

Cokelat Delicacao murni hanya satu cita rasa. Yang membedakan produk yang dijualnya hanya di tingkat kemanisannya. “Kami di Delicacao membedakan tingkat kemanisannya itu dengan persen, misalnya 60, 70, 80, 90 sampai 100 persen. Jadi kalau yang 100 persen, itu utuh murni biji cokelat saja, tidak ada pemanis sama sekali. Rasa yang 100 persen itu super sekali dan bagus untuk kesehatan karena biji kakao itu antioksidan terbaik di dunia. Paling bagus untuk jantung. Kalau rasa yang 100 persen itu ada paitnya, ada masamnya, ada gurihnya karena biji kakao yang kami gunakan ini adalah biji kakao yang sudah difermentasi,” ungkapnya.

Terkait kondisi bisnis di tengah pandemi Covid-19, Eka mengakui, penjualan turun cukup signifikan. Hal ini lantaran wisatawan mancanegara sangat minim. Agar mampu bertahan, pihaknya berupaya mencari jaringan pemasaran di luar Bali misalnya Jabotabek, Surabaya, Bandung sampai Medan. “Kami menyiasatinya seperti itu dan menjalin kerja sama dengan supermarket-supermarket yang ada di luar Bali juga,” katanya. *suk

BAGIKAN