Kakao Jembrana Masih Jadi Primadona

Setelah produk olahan kakao dari petani di Kabupaten Jembrana diekspor ke berbagai negara di Eropa, kini di tengah pandemi Covid-19, sebanyak 10 ton kakao fermentasi kembali dieskpor ke Osaka, Jepang, oleh petani di Subak Abian Dwi Mekar, Desa Poh Santen, Jembrana.

Gubernur Bali Wayan Koster saat melihat hasil pertanian kakao.

Negara (bisnisbali.com) Setelah produk olahan kakao dari petani di Kabupaten Jembrana diekspor ke berbagai negara di Eropa, kini di tengah pandemi Covid-19, sebanyak 10 ton kakao fermentasi kembali dieskpor ke Osaka, Jepang, oleh petani di Subak Abian Dwi Mekar, Desa Poh Santen, Jembrana. Gubernur Bali Wayan Koster menyambut gembira akan hal itu dan menilai pertanian Bali masih menjadi primadona.

“Dulu waktu saya menjadi calon Gubernur Bali, sempat berkunjung ke perkebunan kakao ini. Saya lihat kualitasnya bagus, dan sudah saya prediksi waktu itu potensi kakao Bali khas Jembrana ini luar biasa, sehingga dulu saya berpikir, perlu didukung perkebunan ini dari hulu dan hilir, ternyata hilirnya sudah bergerak sendiri sampai ke Eropa. Sekarang yang perlu kita tingkatkan ialah produksinya, dan lahannya diperluas,” ujarnya saat melepas ekspor 10 ton kakao ke Osaka Jepang, di Jembrana, Kamis (20/8) lalu.

Dalam upaya menjaga potensi kakao tetap lestari dan memberikan manfaat secara ekonomi kepada petani, pihaknya melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali tahun ini telah mengalokasikan bantuan kakao sebanyak 100.000 pohon dengan luas 100 hektar, dan sebanyak 10.000 pohon di antaranya dialokasikan di Subak Abian Dwi Mekar, Desa Poh Santen. Di hulu, Koster mengharapkan aspek budi daya kakao perlu terus diintensifkan.

Subak Abian Dwi Mekar diharapkan membentuk koperasi-koperasi pengolahan dan pemasaran hasil seperti Koperasi Kertha Semaya Semaniya di Desa Nusasari, Kecamatan Melaya yang mampu memproduksi kakao olahan dan telah berhasil menembus pasar dunia, seperti Prancis, Finlandia, dan Jepang. Dengan membentuk wadah koperasi, Koster meyakini akan memudahkan para petani untuk koordinasi dan untuk pembinaan, serta dapat menggerakkan anggota dalam kerja sama dalam pengelolaan dan pemasaran hasil.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Ida Bagus Wisnuardhana mengungkapkan, Kabupaten Jembrana memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan komoditas perkebunan, yang di antaranya seperti komoditas kelapa, kakao, cengkeh, dan vanili. Khusus komoditas kakao, Jembrana merupakan kabupaten dengan luasan kebun kakao terbesar di Bali yang mencapai 43,25 persen, sekaligus merupakan kabupaten yang memiliki konsen untuk mewujudkan kakao fermentasi di Bali. Secara harga, kakao Jembrana harganya sangat spesifik berkisar antara Rp 58.000 sampai 60.000 per kilogram, dan mungkin ini merupakan harga kakao fermentasi termahal di Indonesia.

Lebih lanjut Ida Bagus Wisnuardhana menyampaikan, dari total produksi kakao Bali yang mencapai sekitar 4.849 ton, maka target biji kakao yang diolah menjadi kakao fermentasi pada tahun ini sekitar 1.000 ton, dan akan dipenuhi sekurangnya 600 ton dari Kabupaten Jembrana untuk kebutuhan pasar ekspor, seperti 10 ton kakao fermentasi ke Osaka. “Gambaran ekspor kakao fermentasi ini membuka mata kita bahwa sektor pertanian, khususnya sub sektor perkebunan masih tetap eksis pada situasi pandemi Covid-19,” jelasnya. *wid

BAGIKAN