Jelang Nyepi, TPID Jaga Stabilitas Harga Barang

Bank Indonesia (BI) menilai bahwa inflasi Bali masih dalam keadaan rendah dan terkendali.

PEDAGANG – Pedagang bumbu di Pasar Badung. Jelang Nyepi, stabilitas harga bahan pokok menjadi perhatian khusus TPID Bali. (foto/eka adhiyasa)

Denpasar (bisnisbali.com) – Bank Indonesia (BI) menilai bahwa inflasi Bali masih dalam keadaan rendah dan terkendali. Namun, beberapa komoditas seperti cabai rawit dan cabai merah level harganya masih menunjukkan tren kenaikan.

Hari raya Nyepi yang jatuh pada Maret 2021 ini diperkirakan akan meningkatkan permintaan untuk bahan makanan dan canang sari. “Menghadapi potensi tantangan tersebut, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terus melakukan kerja sama antardaerah,” kata Wakil Ketua TPID Bali, Trisno Nugroho, di Denpasar, Selasa (2/3).

Trisno yang juga Kepala Kantor Perwakilan BI Bali ini menerangkan, upaya menjaga stabilitas harga juga termasuk mengoptimalkan pemanfaatan mesin controlled atmosphere storage (CAS) dan mengimbau agar petani tetap menanam sesuai dengan siklusnya agar pasokan tetap mencukupi. BI terus mendorong pemanfaatan teknologi dalam pemasaran produk-produk pertanian (e-commerce) dan dalam produksi (digital farming).

Sementara terkait laju inflasi, kata Trisno, pada Februari 2021 Bali mengalami deflasi sebesar 0,15 persen (mtm). “Deflasi ini terjadi di semua kelompok barang, yaitu volatile food, administered price dan core,” ujarnya.

Secara spasial, Kota Denpasar mengalami deflasi sebesar 0,20 persen (mtm), sedangkan kota Singaraja mengalami inflasi sebesar 0,22 persen (mtm). Secara tahunan (yoy), Bali mengalami inflasi sebesar 0,43 pesren di mana lebih rendah dibanding inflasi nasional 1,38 persen.

Kelompok volatile food mengalami deflasi sebesar 0,15 persen (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan harga terlihat utamanya pada komoditas daging ayam ras, jeruk, tomat, bawang merah, dan mangga. Penurunan harga komoditas ini merupakan normalisasi harga pasca permintaan yang tinggi di Januari 2021 serta telah dimulainya panen raya untuk komoditas hortikultura.

Namun demikian, produk-produk holtikultura dan sayuran, seperti cabai rawit, cabai merah, sawi hijau, dan bayam justru menunjukkan inflasi yang tinggi sehingga patut diwaspadai dan diantisipasi oleh TPID. Kelompok barang administered price mencatat deflasi sebesar 0,39 persen (mtm), terutama disebabkan oleh turunnya tarif angkatan udara dan tarif kendaraan roda dua online. Tarif angkutan udara yang turun tersebut sejalan dengan pembatasan mobilisasi masyarakat (PPKM) dan juga normalisasi harga pasca libur panjang yang berlangsung hingga awal Januari 2021.

Kelompok barang core inflation mencatat deflasi sebesar 0,09 persen. Penurunan harga komoditas emas perhiasan dan canang sari menjadi penyumbang deflasi utama. Penurunan harga emas sejalan dengan redanya rally investor sejalan dengan perekonomian dunia yang diprakirakan pulih lebih cepat dari estimasi awal. “Ada pun penurunan harga canang sari juga merupakan normalisasi pascabeberapa HBKN di bulan Januari, di antaranya hari raya Saraswati,” ucapnya. *dik

BAGIKAN