Jelang Galungan, Buah Lokal Terbatas di Pasaran

Di tengah meningkatnya ketertarikan konsumen, tampaknya pada momen Hari Raya Galungan nanti  permintaan akan buah lokal belum bisa dipenuhi secara maksimal.

SEDIKIT- Jenis buah lokal sedikit beredar di pasaran karena  belum musim panen.

Tabanan (bisnisbali.com) –Di tengah meningkatnya ketertarikan konsumen, tampaknya pada momen Hari Raya Galungan nanti  permintaan akan buah lokal belum bisa dipenuhi secara maksimal. Salah satu perayaan besar umat Hindu itu kemungkinan hanya diisi oleh sebagian kecil dari jenis komoditas yang ada dan volumenya terbatas.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan Ir. I Nyoman Budana, M.M., Selasa (6/4) kemarin,  mengungkapkan saat ini jenis dan volume produksi buah lokal khususnya hasil petani Tabanan yang bisa terserap pasar jumlahnya sedikit. Saat ini sebenarnya musim panen manggis dan durian, namun karena dampak cuaca ditandai curah hujan yang tinggi membuat hal itu tidak terjadi. Andaikan ada panen, volumenya juga sangat terbatas.

“Buah lain seperti mangga, rambutan dan salak yang juga dikembangkan sebagai komoditi lokal petani Tabanan saat ini belum memasuki musim panen. Jadi, kecil kemungkinan komoditas tersebut hadir memenuhi kebutuhan pasar pada momen Galungan nanti,” tuturnya.

Bercermin dari kondisi tersebut, pilihan terhadap buah lokal kemungkinan berada dalam jenis dan volume terbatas. Selain tidak musimnya, selama ini pengembangan buah lokal tidak banyak di Tabanan. Meski begitu, pilihan buah lokal masih bisa terpenuhi oleh produksi dari daerah lain. Salah satunya jeruk yang merupakan produksi petani Bangli dan Jawa.

Menurut Budana, bila curah hujan berlangsung normal, musim panen manggis dan durian mestinya dimulai Desember lalu. Tetapi akibat curah hujan yang tinggi membuat sentra produksi manggis dan durian di Tabanan  sedikit yang bisa berbuah karena bunga sebagai cikal bakal buah banyak yang gugur.

Manggis yang dihasilkan petani di Tabanan yang sentranya terdapat di daerah Pupuan menjadi komoditi unggulan dan sudah mampu menembus pasar ekspor karena rasa dan kualitasnya yang sangat baik. Hal tersebut dibarengi dengan volume produksi manggis yang merupakan terbesar kedua setelah Sumatera. “Dari sisi rasa, manggis Tabanan lebih unggul dibandingkan Sumatera meski varietasnya sama. Ada pengaruh spesifik lokasi salah satunya menyangkut unsur tanah yang membuat cita rasa manggis produksi Tabanan unggul,” tegasnya.

Petani salak madu di Banjar Kebon Jero, Desa Munduk Temu, Kecamatan Pupuan, Ketut Suardika, S.E., mengungkapkan, pasokan salak untuk memenuhi kebutuhan lokal masih ada. Akan tetapi jumlahnya sudah jauh menurun karena saat ini telah melewati puncak panen yang dimulai sejak Desember 2020. “Saat ini mungkin masih sekitar 5 persen buah salak madu yang bisa dipanen dan rencananya saya lempar ke pasaran untuk Galungan nanti,” kilahnya.

Secara umum pilihan buah lokal untuk upakara selain pisang memang tidak banyak. Di balik sedikitnya jenis dan volume buah lokal yang tersedia di pasaran, kondisi tersebut memberi keuntungan tersendiri bagi petani lokal. Sebab, permintaan pasar yang meningkat membuat harga buah lokal khususnya salak madu menjadi mahal.

Saat ini harga salak madu di tingkat petani laku terjual hingga Rp 15.000 per kilogram. Ini sekaligus merupakan harga tertinggi yang pernah ada selama masa pandemi, karena sebelumnya harga salak madu maksimal Rp 13.000 per kilogram. “Meningkatnya harga ini tentu memberi nilai tambah bagi petani. Selama ini transaksi buah lokal cenderung ditopang oleh momen hari raya, khususnya Galungan dan Kuningan seiring meningkatnya permintaan pasar,” pungkasnya. *man

BAGIKAN