Jaringan Irigasi Rusak, Produksi Padi Turun

Pada 2019, produksi padi di Kabupten Bangli mengalami penurunan hingga belasan ton

Bangli (bisnisbali.com) – Pada 2019, produksi padi di Kabupten Bangli mengalami penurunan hingga belasan ton. Hal ini salah satunya disebabkan rusaknya jaringan irigasi yang sudah terjadi sejak 8 bulan lalu.

Akibat signifikan yang ditimbulkan dari kerusakan irigasi ini adalah beralihnya pola tanam petani. Petani menanam palawija meski hasilnya kurang menggembirakan akibat kemarau panjang.

Sekretaris Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli, I Wayan Sarma mengatakan, penurunan produksi padi ini disebabkan berbagai faktor, seperti gagal panen karena serangan hama dan juga petani yang tidak bisa melakukan pola tanam karena rusaknya jaringan irigasi.

“Rusaknya jaringan irigasi utamanya yang berada di Sidembunut berimbas pada petani yang herada di wilayah hilir yakni di Kelurahan Bebalang dan sekitarnya,” ungkapnya.

Kerusakan yang berada di saluran induk daerah irigasi (DI) Sidembunut mengakibatkan lahan persawahan 102 hektar tidak mendapatkan suplai air, ditambah lagi dengan kemarau panjang yang berimbas pada lahan 1 hektar hanya menghasilkan 6 ton padi.

Pascakerusakan saluran irigasi ini, Dinas PKP memberikan bantuan bibit jagung 200 kilogram dengan rasio 10 kg bibit jagung/hektar. Namun karena kemarau panjang, bibit jagung gagal berproduksi.

Dikatakannya, luas panen bersih di empat kecamatan yang ada di Bangli untuk sub round pertama (Januari-April) produksi padi 6.223,79 ton. Sub round dua (Mei-Agustus) dengan luas panen bersih 1.807,6 hektar produksi padi 10.180,40 ton.

“Dari hasil koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman, perbaikan saluran induk di Sidembunut akan dilaksanakan tahun ini dengan anggaran DAK penugasan Rp 3,4 miliar. *ita

BAGIKAN