Jangan Menyerah, UMKM bisa Terapkan Ini Bertahan di Tengah Tekanan Covid-19

KALANGAN pemerhati ekonomi meyakini krisis akibat virus corona yang terjadi saat ini tidaklah sama seperti krisis keuangan 2008.

KALANGAN pemerhati ekonomi meyakini krisis akibat virus corona yang terjadi saat ini tidaklah sama seperti krisis keuangan 2008. Krisis keuangan membuat daya beli menurun signifikan, sedangkan krisis akibat covid-19 karena masyarakat menahan daya beli karena kebijakan terkait keamanan kesehatan. Karenanya jika krisis akibat kesehatan ini bisa pulih maka ekonomi akan dapat kembali tumbuh dan daya beli bisa meningkat lagi.

Oleh karenanya selama covid-19 ini, pelaku usaha diharapkan bertahan dan tetap mempersiapkan bisnis ke depannya.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, Trisno Nugroho mengatakan, UMKM binaan BI tidak dipungkiri juga terdampak. Oleh karenanya bank sentral terus melakukkan komunikasi dengan binaan untuk bersama-sama menghadapi covid-19.

Ia menekankan kepada binaan agar bisnis yang mereka rintis harus tetap berjalan dan mampu bertahan pada saat kondisi pandemi saat ini. Trisno pun memberikan strategi agar bisnis tetap bisa bertahan di tengah covid-19 seperti mulai memikirkan pengembangan produk dan pelayanan. Itu bisa dilakukan dengan mencoba menghasilkan produk baru atau lini baru dari produk yang selama ini dihasilkan.

“Di sinilah kreativitas dan inovasi UMKM diperlukan untuk mengahsilkan produk baru yang dibutuhkan di tengah kondisi saat ini,” katanya.

Selanjutnya memperbaiki strategi pemasaran yang selama ini dilakukan dengan pemanfaatan teknologi. Strategi lainnya, pelaku usaha bisa melirik menggunakan media digital seperti memanfaatkan media sosial antara lain facebook, instagram, twitter maupun market place. Dari sisi penjualan, UMKM dapat pula memanfaatkan jasa pengiriman online yang saat ini sedang tren di masyarakat.

Tidak terkecuali jaga hubungan baik timbal balik dengan vendor, supplier dan distributor. Sesama anggota berhimpun saling berhubungan sebagai sarana mengembangkan jejaring dan bisnis.
“Intinya mempersiapkan bisnis untuk lebih berkembang dan pelaku usaha perlu juga meningkatkan keahlian yang dimiliki demi perkembangan bisnis ke depannya,” ujarnya.

Di sinilah, kata Trisno, BI melakukan binaan dengan membantu memberikan pelatihan, share informasi kepada rekan binaan. Melalui pelatihan-pelatihan akan mengedukasi UMKM, salah satunya pengelolaan keuangan agar bisa membantu pelaku usaha untuk mengambil keputusan bisnis yang strategis. Kesulitan-kesulitan yang dirasakan rekan binaan bisa bersama-sama diatasi. Satu contoh terkait pembiayaan, maka BI akan menghubungkan dengan perbankan agar masalah yang dihadapai UMKM bisa teratasi.
Termasuk kartu prakerja, di mana semua binaan masuk prakerja. Jika ada kesulitan akan didampingi. BI pun memberikan pelatihan terkait marketing , melakukan shifting produk misal membuat produk usaha kuliner.

“Binaan kami bahkan ada yang bertahan dan melakukan shifting produk membuat masker. Masker banyak dipesan dari Jakarta karena menggunakan pemasaran sosmed, bahkan ada UMKM yang membuat masker menggunakan bahan pewarna alami” ucapnya.
UMKM binaan BI yang masi bertumbuh dari usaha pertanian seperti kopi, bawang putih, bawang merah masih jalan, udang dan masih ada lainnya.

Pihaknya pun mengimbau agar selalu mengutamakan menggunakan amupun mengkonsumsi UMKM lokal Bali. Harapannya sektor ekonomi bisa terus berjalan.*dik

BAGIKAN