Jaga Kepercayaan Wisatawan    

AWAL Maret lalu, pariwisata Bali mencapai titik terendah. Namun seiring dibukanya kembali objek wisata untuk wisatawan domestik (wisdom), sektor pariwisata mulai mendapat angin segar.

AWAL Maret lalu, pariwisata Bali mencapai titik terendah. Namun seiring dibukanya kembali objek wisata untuk wisatawan domestik (wisdom), sektor pariwisata mulai mendapat angin segar. Pengelola objek wisata, akomodasi pariwisata dan pendukung lainnya pun berupaya melakukan inovasi untuk memaksimalkan pasar domestik.

Manajer DTW Tanah Lot Ketut Toya Adnyana mengatakan, sempat mengalami penurunan omzet mencapai 90 persen. Tentunya, hal tersebut merugikan. Namun, keadaan sudah mulai membaik. Saat ini. pengunjung mencapai 300 sampai 500 orang per hari. Dengan, pertumbuhan positif itu, tidak membuat pelaku pariwisata terlena. Protokol kesehatan (prokes) tetap dijadikan prioritas utama, demi menjaga kepercayaan pengunjung.

“Sejak dibuka resmi pada Juli, market yang diandalkan adalah wisatawan domestik. Walaupun jumlahnya tidak bisa dibandingkan dengan sebelum pandemi, yakni hampir 8.000 pengunjung per harinya. Setidaknya untuk saat ini biaya operasional seperti perawatan lingkungan, air, listrik dan BPJS karyawan dapat terpenuhi. Kami juga mengusahakan memberikan insentif kecil-kecilan untuk karyawan. Karena sedang berusaha menarik wisatawan kembali, upaya menjaga kepercayaannya menjadi fokus utama kami,” ujar Toya Adnyana.

Disampaikannya, saat ini tugas karyawan diatur dengan sistem shift. Untuk penerapan prokes juga sudah diarahkan agar sedisiplin mungkin. Mulai dari menyediakan fasilitas cuci tangan lengkap dengan sabun di berbagai titik tertentu, penyediaan hand sanitizer dan masker bagi pengunjung yang tidak membawanya. Selain itu, ada beberapa orang yang bertugas dalam bentuk pengawasan dan memberi imbauan bagi pengunjung yang tidak melaksanakan prokes.

“Jadi, akan ada imbauan berkala melalui pengeras suara bagi pengunjung yang berkerumun dan tidak memakai masker. Memang pekerjaannya sedikit lebih ekstra, tapi itu bukan alasan untuk menyepelekan prokes. Tanpa ketertiban menjalankan imbauan pemerintah tersebut, hanya akan mengundur pergerakan pariwisata di Bali. Mengenai pemerintah, harapannya agar memberikan informasi yang konsisten terkait pariwisata, tidak berubah-ubah. Jadi, kami selaku pelaku pariwisata dapat menyesuaikan langkah dan strategi membangun pariwisata kembali,” imbuhnya.

Intinya, kesiapan dalam menyambut pengunjung sudah sangat luar biasa. Baik dari segi keterampilan pelayanan dan penerapan prokes. “Merupakan sebuah keharusan, untuk sama sama berusaha dalam memerangi pandemi untuk kelancaran hidup bersama,” katanya. *git

BAGIKAN