Jaga Daya Beli Upaya Jaga Deflasi tak Terus Berlanjut

Perkembangan harga bulanan di Bali harus dijaga agar tidak terus menerus mengalami penurunan atau deflasi.

Denpasar (bisnisbali.com) –Perkembangan harga bulanan di Bali harus dijaga agar tidak terus menerus mengalami penurunan atau deflasi. Untuk itu yang harus dilakukan bukanlah mengatur agar perkembangan harga kembali menjadi positif atau inflasi melainkan dengan cara mengatasi penyebabnya.
“Caranya yaitu menjaga daya beli masyarakat melalui peningkatan pendapatan,” kata Analis Ekonomi dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, M. Setyawan Santoso di Renon, Senin (5/10).

Oleh sebab itu, kata Deputi Direktur KPw BI Bali ini, upaya-upaya peningkatan pendapatan masyarakat baik dalam bentuk yang paling dasar sampai yang paling menantang harus dilakukan. Upaya peningkatan pendapatan yang paling dasar contohnya pemberian bansos (bansos) seperti bantuan kartu pra-kerja bagi masyarakat yang kehilangan pekerjaan atau pembagian program keluarga harapan, pemberian kartu sembako dan lainnya.
Sementara itu, program peningkatan pendapatan yang paling menantang adalah bantuan bagi usaha UMKM yang terdampak Covid. Program ini beragam dimulai dengan pemberian restrukturisasi kredit, subsidi bunga dan bantuan jaminan kredit.
“Masih ada satu skim yang belum banyak dimanfaatkan yaitu program KUR super mikro,” katanya.

Program ini ditujukan bagi pengusaha mikro dan usaha rumah tangga yang pendapatannya menurun karena terdampak Covid-19. Menurut Emsan biasa ia disapa syaratnya adalah pengajuan dilakukan oleh unit usaha melalui forum klaster.
“Diperlukan koordinasi dari berbagai pihak baik perbankan, pemda dan masyarakat untuk memberdayakan skim ini,” imbuhnya.
Seperti diketahui pada September 2020, Bali mengalami perkembangan harga bulanan negatif (deflasi) sebesar -0,11%. Kinerja ini dihasilkan dari kondisi kota Denpasar yang mengalami deflasi -0,16% dan kota Singaraja yang mengalami inflasi 0,27%.*dik

BAGIKAN