Isu Virus, Peternak Babi pun tak Nikmati Berkah Hari Raya

Ngelawar merupakan salah satu tradisi yang dilakukan masyarakat di Bali jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan

Ngelawar merupakan salah satu tradisi yang dilakukan masyarakat di Bali jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan. Salah satu olahan yang paling sering dicari adalah olahan daging babi. Momen hari raya pun menjadi berkah bagi peternak. Bagaimana kondisi peternak saat ini?

NAMUN beredarnya pemberitaan mengenai virus yang menyerang ternak babi ditakutkan akan membuat masyarakat takut mengkonsumsi daging babi, padahal hari raya ini adalah momen yang paling ditunggu oleh para peternak babi untuk bisa menjual hewan ternaknya dengan harga yang lebih mahal karena tingginya permintaan.

Ketua GUPBI Bangli, Sang Putu Adil tidak menampik adanya penurunan permintaan untuk daging babi secara umum dibandingkan dengan enam bulan lalu. Hal ini tentunya disebabkan adanya pemberitaan mengenai ASF yang menyasar ternak babi, padahal virus tersebut tidak menjangkiti semua ternak, apalagi pola pemeliharaan ternak babi di Bangli pada khususnya sudah sangat baik dan bersih, sehingga virus diharapkan tidak sampai masuk. “Kita punya komunitas para peternak babi. Di dalam komunitas atau organisasi ini kita selalu sharing inormasi dan juga pola pola beternak yang baik dan sesuai dengan standar kesehatan, karenanya kesehatan ternak kami sangat kami perhatikan, tujuannya agar tidak kena penyakit atau virus seperti yang belakangan ini sedang marak terjadi,” ungkapnya.

Ketakutan masyarakat awam terkait perkembangan virus ini mendapatkan respons cepat dari Pemerintah Kabupaten Bangli. Dinas terkait serta organisasi GUPBI dan juga prajuru desa ikut serta dalam memberikan informasi kepada masyarakat agar tidak takut mengkonsumsi daging babi, tentunya tetap dengan memperhatikan pola pengolahan yang benar. Selain mengedukasi masyarakatnya, pemerintah juga melakukan gerakan tidak takut makan babi dengan menggelar acara makan babi guling bersama. Kegiatan ini merupakan upaya kampanye daging babi itu tetap aman dikonsumsi, di tengah merebaknya isu penyakit penyebab kematian babi di beberapa daerah di Bali akhir-akhir ini.

Kepala Dinas PKP Kabupaten Bangli I Wayan Sarma menegaskan, sejauh ini di Kabupaten Bangli aman dari wabah penyakit babi termasuk ASF. Karenanya, ia mengajak masyarakat tidak perlu khawatir mengkonsumsi daging babi. Berdasarkan pantauannya di tempat-tempat penjualan olahan daging babi sejauh ini belum ada penurunan penjualan atau konsumsi daging babi. Namun dia tak mengungkiri isu ASF yang merebak itu cukup berpengaruh terhadap harga jual ternak babi. Ditambahkannya, dalam kesempatan itu pihaknya mengimbau para peternak babi agar sementara ini tidak menambah populasi, apalagi mendatangkan babi dari luar kabupaten. Kalau ada informasi atau pengaduan peternak maka diharapkan menghubungi petugas penyuluh lapangan setempat atau Dinas PKP Kabupaten Bangli.

“Kita imbau masyarakat jangan takut karena peternak kita saat ini sudah berpengalaman dalam memelihara ternaknya, hanya dengan adanya kejadian ini kami masih mengimbau agar para peternak jangan dulu menambah populasi babi apalagi kalau populasi tersebut didatangkan dari luar, alangkah baiknya tetap memilih pemberdayaan babi lokal yang telah dimilikinya untuk menghindari adanya penyebaran virus,” terang Wayan Sarma.

Sementara itu Bupati Bangli I Made Gianyar mengajak seluruh masyarakat Bangli jangan takut mengkonsumsi daging babi. Bupati juga memastikan daging babi itu tetap aman dikonsumsi asalkan berasal dari ternak yang sehat dan diolah dengan cara yang benar. Ditambahkannya, sudah sejak awal munculnya informasi penyakit demam babi Afrika atau African swine Fever (ASF) itu pihaknya  telah memerintahkan Dinas PKP melalukan langkah-langkah efektif menguji kebenaran isu tersebut. Setelah dilakukan kajian, Bupati menerbitkan surat edaran. Surat edaran itu diterbitkan untuk maluruskan, bahwa di Kabupaten Bangli ini tidak ada penyakit ASF termasuk penyakit babi lainnya. Karena tidak ada penyakit itu pihaknya minta peternak babi untuk tetang. “Masyarakat juga saya minta tenang dan tidak perlu khawatir. Bupati juga mengingatkan para peternak babi untuk tetap melakukan pencegahan dengan cara agar diterapkan tata kelola peternak babi yang benar, salah satunya selalu memperhatikan dan menjaga kebersihan serta sanitasi kandang dengan cara menyemprotkan disinfektan. “Yakinlah kalau pola itu dilakukan seluruh peternak babi akan sehat dan manusianya juga sehat.  Kalau ternak babi sehat, ekonomi masyarakat akan naik,” terang Made Gianyar.

Dengan upaya-upaya yang telah dilakukan pemerintah yag bersinergi dengan organisasi peternak babi, peternaknya serta masyarakat tentu diharapkan kehawatiran masyarakat bisa berangsur-angsur pulih dan mengkonsmsi babi yang menjadi budaya masyarakat kita terutama saat hari raya bisa tetap bisa dilaksanakan. *ita

BAGIKAN