Investasi dan Ekspor Bali Berpotensi Meningkat, Ini Alasannya

Kinerja investasi dan ekspor Bali pada tahun 2021 berpotensi mengalami peningkatan.

LOBSTER - Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono panen lobster di Teluk Sumberkima, Rabu (20/1). Hasil panen akan diekspor ke Tiongkok.

Denpasar (bisnisbali.com) – Kinerja investasi dan ekspor Bali pada tahun 2021 berpotensi mengalami peningkatan. Kondisi ini seiring dengan rencana investasi di tahun 2021 baik yang bersumber dari swasta maupun pemerintah.

Seperti dikatakan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, Trisno Nugroho di Renon, Kamis (21/1), berbicara pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan I 2021 masih menunjukkan kontraksi. Proyeksi besaran pertumbuhan ekonomi ini akan dibahas pada awal Februari mendatang.

Kendati demikian, Trisno menerangkan, pada 2021 ada peluang-peluang partumbuhan ekonomi termasuk di dalamnya investasi dan ekspor. Investasi meningkat seiring adanya sejumlah proyek baru tahun 2021 di antaranya jalan tol Gilimanuk-Mengwi, pembangunan hotel, dan penataan destinasi wisata Pura Besakih, pembangunan Pelabuhan Benoa, dan pembangunan jalur kereta api listrik bandara menuju ke Kuta.

“Di samping itu, investasi nonbangunan juga diperkirakan meningkat. Kondisi ini disebabkan oleh peningkatan optimisme investor seiring mulai dilaksanakan vaksinasi Covid-19,” katanya.

Dari sisi ekspor, komoditas asal Bali diperkirakan mengalami perbaikan meskipun belum dapat kembali kepada level tahun 2019. Perkiraan ini didasarkan pada perbaikan ekonomi negara mitra dagang utama Bali.

“Pertumbuhan ekonomi Amerika akan membaik dari -4,3 persen tahun 2020 menjadi 3,1 persen tahun 2021. Sementara itu, Australia, Cina dan Jepang akan membaik dari masing-masing -4,5 persen, 1,9 persen dan -5,3 persen di tahun 2020 menjadi 4 persen, 8,2 persen dan 2,3 persen di tahun 2021,” ujarnya.

Di samping itu, jalur distribusi yang sebelumnya sempat terhambat akibat Covid 19 saat ini diperkirakan akan terbuka dan mulai normal kembali. Trisno pun menyebutkan, prospek pertumbuhan ekonomi 2021 dilihat berdasarkan komponen produk domestik regional bruto (PDRB) sisi permintaan, semua komponen diperkirakan mengalami kenaikan. Komponen konsumsi swasta misalnya mengalami peningkatan di tahun 2021. “Hal ini tercermin dari survei konsumen yang menunjukkan bahwa indeks ekspektasi konsumen 6 bulan ke depan lebih tinggi dibandingkan dengan indeks sebelumnya,” terangnya.

Selanjutnya, komponen pengeluaran pemerintah diperkirakan meningkat. Perkiraan ini didasarkan pada informasi dari Bappeda Provinsi Bali di mana pada tahun 2021 terjadi peningkatan pagu APBD. Hal ini sesuai dengan arah kebijakan nasional yakni pengeluaran pemerintah diarahkan agar bersifat ekspansif konsolidatif.

Ia pun menilai, secara umum hasil-hasil survei dan pengamatan terhadap beberapa indikator menunjukkan bahwa perekonomian Bali pada tahun 2021 akan lebih baik dibandingkan dengan tahun 2020. Laju pemulihannya ditentukan oleh faktor-faktor ketersediaan vaksin Covid-19, level of confidence to travel, kebijakan perlintasan orang (domestik dan internasional) dan pemulihan ekonomi global. “Sementara itu, permintaan untuk wisatawan domestik diperkirakan akan lebih cepat pulih dibandingkan dengan wisatawan mancanegara,” ucapnya.

Hal ini tercermin pada indikator google trend yang menunjukkan pencarian Bali telah mulai meningkat. Selain itu, pencarian terhadap Bali berada di atas destinasi domestik lainnya yang menunjukkan bahwa Bali masih menjadi destinasi wisata yang diminati wisatawan domestik.*dik

BAGIKAN