Ini, Strategi Warung Nasi Lawar Odah Gempar Jaga Kepercayaan Konsumen

Usaha kuliner di tengah pandemi Covid-19 mengalami penurunan omzet yang cukup dalam.

Denpasar (bisnisbali.com) – Usaha kuliner di tengah pandemi Covid-19 mengalami penurunan omzet yang cukup dalam. Strategi yang dilakukan pebisnis saat ini hampir sama, yakni mengoptimalkan kemampuan bertahan. Terlebih bisnis dengan mengusung makanan khas Bali, tentu cita rasanya tidak boleh berkurang dan harus dipertahankan.

Pemilik Warung Nasi Lawar Odah Gempar, Sanur, Denpasar, I Made Damayana mengatakan, awal mulanya menekuni bisnis kuliner khas Bali karena turunan bisnis keluarga. Makanan yang khas berupa nasi lawar ini memiliki banyak peminat sebelum pandemi. Namun, sekarang perlu penyesuaian untuk mendatangkan kembali pelanggan.

“Dengan berkembangnya makanan cepat saji dari tahun 2015 lalu, saya tetap memilih melestarikan masakan tradisional dengan ciri khasnya itu. Seperti, lawar babi, lawar ayam, sate, tum, serapah lidah babi dan babi goreng. Semua bahan yang digunakan tidak ada yang mentah, semuanya matang. Jadi, masakan di sini tergolong sangat aman,” ujar Damayana.

Terkait dengan bisnis kuliner yang mengangkat masakan Bali, yang perlu ditekankan adalah cita rasanya yang khas. Perpaduan berbagai macam bumbu dengan jumlah yang cukup banyak sangatlah penting. Di tengah pandemi, hal tersebut perlu disiasati, salah satunya dengan mengurangi stok makanan. Jadi, bukan mengurangi takaran bumbu yang berisiko mengurangi rasa makanan.

“Saya tidak mengurangi kualitas rasa, hanya mengurangi stok saja, mengingat yang datang ke warung makan tidak seramai dulu lagi. Walaupun begitu, tetap dipertahankan eksistensi warung makan dengan tetap buka. Saya tidak pernah menutupnya selama pandemi. Pemasarannya ditambah dengan memanfaatkan sosial media,” lanjutnya.

Sesuai dengan anjuran pemerintah, pihaknya menerapkan protokol kesehatan secara disiplin. Mulai dari menyiapkan fasilitas cuci tangan di depan warung makan, mengatur jarak dan wajib menggunakan masker. Untuk jam operasional juga mengikuti arahan dari pemerintah, yakni pukul 09.00 – 17.00 Wita.

“Saya tidak berharap lebih, hanya ingin Bali tetap damai. Kalau sudah damai dan aman pastinya suasana akan lebih terkontrol. Walaupun dihalau dengan adanya pandemi, saya sebagai pebisnis tidak terlalu mengharapkan apapun dari pemerintah. Sebagai pengusaha saya bisa berikan saran, agar tetap buka. Apalagi bisnis kuliner, eksistensinya harus tetap terjaga agar pelanggan tidak kecewa,” katanya. *git

BAGIKAN