Ini, Strategi Pulihkan Ekonomi Kreatif

Memperluas pasar dan agresif menggunakan sarana digital perlu dilakukan dalam upaya memulihkan UMKM ataupun 17 sub sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) di tengah pandemi.

UMKM – Pelaku UMKM diharapkan memanfaatkan sarana digital dalam memasarkan produk.

Denpasar (bisnisbali.com) – Memperluas pasar dan agresif menggunakan sarana digital perlu dilakukan dalam upaya memulihkan UMKM ataupun 17 sub sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) di tengah pandemi. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, Trisno Nugroho di Renon, Minggu (31/1), mengatakan dalam pertemuan dengan Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno, selain meng-update kondisi yang terjadi akibat Covid-19 di Bali, juga muncul usulan dan rekomendasi program yang bisa dilakukan pemerintah pusat maupun daerah.

Salah satunya dari sisi peningkatan parekraf di tengah kompetitif yang tidak hanya di Bali, namun semua daerah juga bersaing menjual produk-produknya. “Diharapkan kualitas, kuantitas dan kurasi produk Bali yang selama ini sudah terkenal bisa terjamin dan bisa dibeli di luar Bali dan dunia,” katanya.

Caranya, memperluas pasar yang dulunya konsumen datang membeli aneka produk ke Bali, kini perlu agresif dengan digitalisasi. Tentunya hal itu menuntut kualitas harus bagus dan kurasi sehingga konsumen bisa beli melalui marketplace, sosial media dan lainnya. “Mendorong UMKM unggulan di masing-masing daerah untuk meningkatkan kualitas produk dan memperluas pasar. Kreatif dan inovasi dalam menghasilkan karya-karya kreatif termasuk digitalisasi, baik dalam perluasan pasar pengelolaan usaha, maupun sistem pembayaran,” ujarnya.

Contoh yang disampaikannya adalah pengembangan produk fashion Bali. Trisno mengambil istilah Menparekraf yaitu low hanging fruit. Bali sudah terkenal endek songket selama ini kini tinggal dipanggil desainer terkenal agar memiliki value added, bisa dijual di media sosial. “Yang dijual tidak dalam bentuk bahan namun berbentuk pakaian jadi yang bisa dibeli di marketplace. Itulah maksud low hanging fruit yang mudah bisa kita kerjakan,” terangnya.

Begitu pula dari sisi kuliner, kata Trisno, karena jumlah wisatawan yang datang ke Bali menurun tentu akan ikut berkurang yang makan, walaupun kuliner Bali sangat terkenal. Karena itu muncul ide membuat frozen betutu. Dalam arti, mengolah makanan yang dulunya ditawarkan segar dibuat frozen sebagai salah satu industrialisasi dari produk produk yang bisa dimakan langsung dibekukan sehingga bisa dikirim ke luar daerah maupun negeri.

Sementara dari sektor pariwisata, Trisno menyebutkan bila Menparekraf setuju padat karya dengan merapikan objek-objek wisata lewat perbaikan infrastruktur, jalan dan lainnya. Dana infrastruktur kecil bisa melibatkan tenaga kerja banyak untuk bekerja sehingga memperoleh pendapatan. “Destinasi wisata banyak di Bali yang perlu dirapikan sehingga ketika dibuka kembali semua sudah rapi,” tururnya.

Lebih lanjut Trisno mengungkapkan, dalam pertemuan dengan Menparektraf mencuat terkait tiga agenda yaitu update dampak Covid-19 terhadap ekonomi, pariwisata, secara khusus terhadap 17 sub-sektor ekonomi kreatif dan UMKM. Kedua, update proposal mengenai usulan Wagub Bali untuk pinjaman lunak kepada pengusaha di Bali yang sebelumnya sudah diajukan. Ketiga terkait usulan Free Covid-19 Corridor (FCC).*dik

BAGIKAN