Inflasi Bali Stabil di Bawah 2 Persen

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali menilai inflasi di Pulau Dewata hingga  April masih dalam keadaan rendah dan stabil di bawah 2 persen.

INFLASI STABIL - Masih tingginya harga aneka cabai serta tren kenaikan harga daging babi dan minyak goreng memicu inflasi di Bali, tapi tetap stabil di angka 2 persen.

Denpasar (bisnisbali.com) – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali menilai inflasi di Pulau Dewata hingga  April masih dalam keadaan rendah dan stabil di bawah 2 persen. Namun, khusus untuk beberapa komoditas di kelompok volatile food inflasinya tercatat tinggi.

“Masih tingginya harga aneka cabai dan tren kenaikan harga daging babi dan minyak goreng perlu mendapat perhatian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota,” kata Kepala KPw BI Bali, Trisno Nugroho di Denpasar, Selasa (4/5).

Trisno yang juga Wakil TPID Bali ini menyampaikan beberapa upaya yang perlu dilakukan adalah melakukan kerja sama antardaerah, mengoptimalkan pemanfaatan mesin controlled atmosphere storage (CAS) dan mengimbau masyarakat untuk menanam cabai di pekarangan rumah, sekolah, dan lahan yang tidak terpakai. Selain itu, pemanfaatan teknologi dalam pemasaran produk-produk pertanian (e-commerce) dan dalam produksi (digital farming) juga perlu terus didorong.

Inflasi Bali pada April 2021 melandai, dan tercatat sebesar 0,37 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya 0,52 persen month to month (mtm). Berdasarkan perhitungan BPS, inflasi terjadi di kota Denpasar sebesar 0,46 persen (mtm), sedangkan kota Singaraja tercatat deflasi sebesar 0,15 persen (mtm).  Kenaikan harga terjadi di kelompok volatile food dan kelompok core inflation, sementara kelompok administered prices harganya stabil.

“Secara tahunan, Bali mengalami inflasi sebesar 1,54 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional yang sebesar 1,42 persen (yoy),” ujarnya.

Inflasi pada kelompok volatile food tercatat 0,56 persen (mtm). Komoditas utama penyumbang inflasi di periode April ini adalah daging ayam dan daging babi.

Sementara itu harga cabai rawit yang mulai naik sejak November 2020, dan sudah mulai turun di April. Penurunan harga cabai rawit sejalan dengan kembali meningkatkan pasokan cabai rawit pascacurah hujan yang menurun. Harga ikan tongkol juga menurun pasca gelombang laut yang relatif membaik.

Inflasi pada kelompok core inflation tercatat 0,42% (mtm). Komoditas utama penyumbang inflasi di kelompok ini adalah canang sari dan emas perhiasan. Peningkatan harga canang sari sejalan dengan adanya Hari Raya Galungan dan Kuningan yang jatuh di bulan April, sedangkan peningkatan harga emas perhiasan merupakan dampak dari naiknya harga emas dunia. *dik

BAGIKAN