Inflasi Bali Stabil di Bawah 2 Persen

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Bali menilai inflasi di Pulau Dewata sampai dengan Mei 2021 ini masih dalam keadaan rendah dan stabil yaitu di bawah 2 persen.

Denpasar (bisnisbali.com) –Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Bali menilai inflasi di Pulau Dewata sampai dengan Mei 2021 ini masih dalam keadaan rendah dan stabil yaitu di bawah 2 persen. Kendati demikian beberapa upaya menjaga kecukupan pasokan akan terus dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota seperti kerja sama antardaerah.

“Termasuk mengoptimalkan pemanfaatan mesin controlled atmosphere storage (CAS),” kata Kepala KPw BI Bali, Trisno Nugroho di Denpasar, Kamis (3/6) kemarin.

Ia yang juga Wakil TPID Bali ini mengatakan selain pemanfaatan CAS, diharapkan pemanfaatan teknologi dalam pemasaran produk-produk pertanian (e-commerce) dan dalam produksi (digital farming) juga perlu terus didorong.

Ia pun mengakui Bali mengalami deflasi pada Mei 2021. Deflasi tercatat sebesar 0,58 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencatatkan inflasi sebesar 0,37 persen (mtm). Secara spasial, deflasi terjadi di kota Denpasar sebesar 0,59 persen (mtm) dan kota Singaraja sebesar 0,50 persen (mtm).

“Turunnya tekanan harga terjadi di seluruh kelompok barang, baik kelompok volatile food, core inflation, maupun administered prices,” katanya.

Secara tahunan, Bali mengalami inflasi sebesar 1,07 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional yang sebesar 0,80 persen (yoy).

Kelompok volatile food mengalami deflasi sebesar 1,97 persen (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan harga terlihat utamanya pada komoditas cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, dan bawang merah. Turunnya harga komoditas ini merupakan normalisasi harga pascapermintaan yang tinggi pada April 2021 akibat adanya Hari Raya Galungan dan Kuningan, serta peningkatan kembali pasokan hortikultura pascacurah hujan yang menurun.

Kelompok barang core inflation mencatat deflasi terbatas sebesar 0,33 persen (mtm), terutama disebabkan oleh turunnya harga canang sari sebagai dampak normalisasi pasca beberapa HBKN pada April 2021, di antaranya Hari Raya Galungan dan Kuningan. Namun demikian, penurunan harga kelompok core inflation tertahan oleh meningkatnya tekanan harga pada komoditas emas perhiasan sejalan dengan meningkatnya harga emas dunia, serta peningkatan harga pada beberapa kebutuhan tersier seperti televisi berwarna dan handbody lotion.

Kelompok barang administered price mencatat deflasi sebesar 0,22 persen (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya, terutama disebabkan oleh turunnya tarif angkutan udara seiring dengan kebijakan pembatasan penerbangan selama Hari Raya Lebaran oleh pemerintah pusat. *dik

BAGIKAN