Bupati Eka Gandeng GUBI Bali Rapat Antisipasi Dampak Wabah Babi

Menyikapi keresahan warga terkait wabah babi atau istilah Bali-nya grubug celeng, Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti bersama OPD terkait  di lingkungan Pemkab Tabanan dan Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali,

RAPAT - Bupati Eka di sela-sela rapat antisipasi dampak wabah babi.

Tabanan (bisnisbali.com) –Menyikapi keresahan warga terkait wabah babi atau istilah Bali-nya grubug celeng, Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti bersama OPD terkait  di lingkungan Pemkab Tabanan dan Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali, menggelar rapat antisipasi wabah babi, bertempat di rumah jabatan Bupati.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Eka menyarankan agar mengantisipasi serta menyikapi kabar di media sosial tentang bahaya virus ini agar tidak terjadi kepanikan di masyarakat, khususnya di Tabanan. “Dan ada juga pihak-pihak tertentu yang bermain, mengambil kesempatan dari kepanikan ini. Kondisi ini yang harus dijaga dan bukan berarti harus kita biarkan, justru harus kita sikapi bagaimana dalam posisi ini masyarakat tidak panik apalagi ini menjelang hari raya,” tegasnya.

Untuk itu, ia memerintahkan dinas terkait dan unsur lainnya yang hadir saat itu agar mengawal dengan ketat peredaran babi di Tabanan. Di samping itu ditegaskannya agar ada kesepakatan harga babi di Tabanan. Serta imbauan kepada masyarakat agar tidak membuang bangkai babi sembarangan, sehingga tidak menimbulkan penyakit-penyakit yang baru.

“Dengan adanya kejadian ini, harus betul-betul dicari tahu penyebabnya itu apa. Dalam arti, Tabanan ini harus disterilkan sekali. Pengawasan kita harus ketat, sehingga tidak merugikan kita dalam jangka panjang nanti. Jadi harus dipantau, jangan sampai kita kecolongan,” pinta Bupati Eka.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan, I Made Budana, mengatakan kondisi babi di Tabanan bekisar di harga sekitar Rp10 ribu per kilogram. Hal ini menimbulkan kecemasan dan ketakutan di kalangan peternak babi. Terkait virus babi ini, ia menegaskan bahwa virus ini hanya pada babi saja dan tidak menular pada manusia, sehingga babi aman untuk dikonsumsi.

“Sesuai informasi dan kajian yang disampaikan oleh Bapak Dirjen Pusat Pertanian  dan Ketahanan Pangan Bali yang juga melakukan demo makan babi. Di Tabanan juga dilakukan hal serupa seperti di Kerambitan dan Marga, yang melakukan kegiatan makan daging babi. Dalam arti virus babi ini tidak menular bagi manusia,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut ia juga menyinggung bahwa, dalam kegiatan di Kerambitan dan Marga juga mengeluarkan deklarasi kesepakatan harga. Dengan tujuan agar para peternak babi dan masyarakat, khususnya masyarakat Tabanan tidak cemas dan takut lagi akan keberadaan virus ini. “Kisaran harga yang tercapai saat itu Rp25 ribu sampai Rp28 ribu per kilogram untuk babi yang masih hidup,” imbuhnya.

I Ketut Hari Suyasa, selaku Ketua GUPBI Bali mengungkapkan kebanggaannya atas terselenggaranya acara ini. Ia juga menegaskan bahwa virus ini tidak menular ke manusia. Dan hal itu sudah didasari oleh kajian-kajian yang telah dilakukannya selama ini. Ia menambahkan, selama babi ini tidak dijual dalam keadaan sakit atau dicampur dengan babi yang sehat, maka virus babi ini tidak menular.

“Intinya penyakit ini, kalau dalam keadaan sakit pun jika dagingnya dimakan aman sekali. Kalau bapak-bapak ragu, ada dua pilihan setelah makan babi, yaitu minum yogurt dan minum arak. Jadi secara otomatis gampang dibunuh. Jadi penyakit ini sangat gampang dibunuh dan juga sangat cepat menyebar,” imbuh Hari Suyasa. *man

BAGIKAN