’’Bamboo Root Handycrat’’ Tembus Pasar Ekspor

Berbekal jiwa seni serta kreatif ditambah dengan kemauan yang tinggi, siapa sangka rumpun akar bambu yang sebelumnya hanya menjadi limbah dan tidak bermanfaat,

14

Bangli (bisnisbali.com) – Berbekal jiwa seni serta kreatif ditambah dengan kemauan yang tinggi, siapa sangka rumpun akar bambu yang sebelumnya hanya menjadi limbah dan tidak bermanfaat, ternyata bisa diubah menjadi kerajinan yang memiliki nilai jual sangat tinggi bahkan kini mampu menembus pasar ekspor.

Awalnya akar bambu ini oleh masyarakat setempat hanya digunakan sebagai kayu bakar, itu pun pada saat musim panen akan kebanyakan terbuang dan menjadi limbah. Melalui tangan gesit Made Radianto, asal Desa Kayubihi, Bangli akar bambu ini diukir dan dibentuk menjadi berbagai barang seni dengan berbagai bentuk baru seperti bebek, burung, babi dan ada juga yang menyerupai manusia. Kepiawaiannya memanfaatkan limbah bambu ini membuat karya seninya dikenal di Amerika, Australia hingga Jepang. Akar bambu bisa dibentuk menjadi berbagai karya seni mulai dari patung, asbak, lampu hingga kentongan.

“Pada awalnya saya tidak menyangka kerajinan akar bambu ini akan banyak peminatnya, membuatnya pun tanpa disengaja karena melihat ada limbah akar bambu ukuran besar yang menyerupai wajah manusia. Akhirnya saya perhalus lagi sedikit hingga bentuknya benar – benar mendekati wajah manusia, terakhir kita beri sentuhan cat dan antirayap sehingga hasilya jauh lebih bagus,” ungkap Made Miarta asal desa Susut,  Bangli.

Made yang memang sebelumnya perajin patung ini menambahkan, dirinya tidak menyangka patung akar bambu buatannya banyak diminati dan banyak permintaannya, tidak hanya untuk art shop di wilayah Ubud, Payangan dan Kuta namun juga belakangan hingga diekposr ke negara lain, bersama dengan anggota kelompok perajin lainnya.

Tidak ada kesulitan berarti yang dijumpainya dalam memproses akar bambu menjadi kerajinan ini. Hanya memerlukan keterampilan dalam mengukir serta membentuk akar bambu menjadi bentuk yang diinginkan. Bahan bakunya pun tidak sulit untuk mendapatkannya, mengingat Bangli merupakan salah satu kabupaten penghasil bambu. “Sebelum  saya membuat kerajinan dari kayu, hingga akhirnya pariwisata anjlok, krisis ekonomi dan prodak kita banyak ditiru oleh negara lain membuat harga menjadi jatuh. Kondisi ini membuat saya sempat berhenti membuat kerajinan dan beralih ke sektor pertanian,” terangnya.

Kerajinan bambu atau yang dikenal dengan Bamboo Root Handycrat, ternyata membuka peluang baginya untuk kembali berkarya, bahkan hingga saat ini omzet yang diperolehnya dari membuat patung akar bambu ini hingga puluhan juta. Namun demikian dirinya menyadari sebagai seniman kapan pun karyanya bisa saja bernasib sama dengan karya patung sebelumnya, sehingga Made harus bersiap dengan ide – ide kreatifnya tiap saat.* ita

BAGIKAN