Kembangkan IRT Pangan Tradisional ”Urutan” Jadi Oleh-oleh Khas Bali

Upaya Gubernur Bali dalam mengembangkan industri berbasis branding Bali salah satunya dapat diwujudkan dengan pengembangan industri rumah tangga (IRT) pangan tradisional.

76

Denpasar (bisnibali.com) –Upaya Gubernur Bali dalam mengembangkan industri berbasis branding Bali salah satunya dapat diwujudkan dengan pengembangan industri rumah tangga (IRT) pangan tradisional. Salah satu pangan tradisional yang layak dikembangkan menjadi oleh-oleh khas Bali adalah urutan. Urutan ini adalah kuliner khas Bali yang layak untuk dikembangkan dalam IRT dan menjadi oleh-oleh khas Bali maupun kuliner tradisional yang disajikan bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Warmadewa, Ir. AA Made Semariyani, M.Si., mengatakan, urutan merupakan produk pangan analog sosis yang dibuat secara tradisional di Bali melalui proses fermentasi maupun tanpa fermentasi. Secara umum urutan terbuat dari daging dan lemak babi, garam dan rempah-rempah.  Namun, saat ini urutan sudah dibuat secara komersial dan diperdagangkan baik di pasar tradisional maupun modern. “Untuk memenuhi selera konsumen, tuntutan pasar dan penganekaragaman pangan, bahan baku yang digunakan tidak lagi dari daging babi saja tetapi sudah ada urutan yang dibuat dari daging ayam. Urutan ini terutama diperuntukkan bagi konsumen yang tidak mengkonsumsi daging babi atau yang alergi terhadap daging babi, sehingga selongsong atau casing yang digunakan berupa selongsong sintetis yang dapat dimakan seperti dari bahan rumput laut dan lainnya,” katanya.

Namun, kendala yang dihadapi IRT selama ini adalah urutan ayam yang dihasilkan kurang disukai konsumen karena teksturnya keras. “Dari persoalan itu saya sudah lakukan penelitian cita rasa pangan tradisional urutan berbasis daging ayam dengan hasil bawah urutan ayam yang dibuat dengan formulasi penambah lemak 10 persen tanpa perlakuan fermentasi disukai konsumen dan memenuhi standar sosis daging dari segi organoleptik uji mutu biokimia dan mikrobiologi,” ungkapnya. Selain itu untuk mengetahui ada tidaknya cemaran logam pada urutan ayam dalam upaya menjamin mutu dan keamanan pangan urutan ayam dilakukan penelitian keamanan pangan tradisional urutan khas Bali berbasis daging ayam ditinjau dari cemaran logam. “Setelah kami bandingkan dengan standar mutu sosis daging (SNI01 3820 1995) dari uji logam berat terhadap daging ayam dan urutan ayam yaitu terkandung timbal PB baik daging mentah urutan mentah, dikukus maupun yang digoreng nilainya berkisar antara 0,216 7 – 1,05 70 MG/kg, kandungan tembaga (CU) 0,0 181 – 0,27 18 MG/ kg dan seng (ZN) antara 3,377 sampai 7,17 24 MG/kg. Semuanya memenuhi persyaratan standar sosis daging yang mana persyaratan PB adalah maksimal 2,0 MG/ kg, CU adalah maksimal 20 mg/kg sedangkan (ZN) maksimal 40 mg/kg sehingga urutan ayam yang dibuat dengan formula penambah lemak 10 persen tanpa difermentasi aman untuk dikonsumsi,” ungkapnya. Namun, untuk menjadi oleh-oleh khas Bali, urutan berbahan daging ayam tentunya lebih fleksibel dan dapat dicarikan sertifikat halal. “Sertifikat halal saat ini banyak diminta untuk melengkapi izin Depkes dan BBPOM. Apalagi bila ingin dijadikan sebagai oleh-oleh khas Bali tentunya ini sangat penting,” kata AA Semariyani.

Ia mengatakan, harga jual urutan ayam di pasaran jauh lebih tinggi dari harga urutan babi. “Kalau urutan ayam harga berkisar Rp125 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram tergantung campuran lemaknya. Sementara urutan babi hanya Rp80 ribu per kilogram,” katanya. *pur

BAGIKAN