Tidak Sesuai Target, Budi Daya Tebu di Grokgak Hadapi Berbagai Kendala

Budi daya tebu di Grokgak, Kabupaten Buleleng, yang dilaksanakan sejak Juli 2018 ternyata menemui banyak kendala.

Denpasar (bisnisbali.com) –Budi daya tebu di Grokgak, Kabupaten Buleleng, yang dilaksanakan sejak Juli 2018 ternyata menemui banyak kendala. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali, Ir. Ida Bagus Wisnuardhana, M.Si., Minggu (29/12) kemarin di Denpasar mengatakan, kendala kompleks tersebut mengakibatkan target menanam 1.200 hektar tebu tak terealisasi.

“Target awal kita menanam 1.200 ha tebu, tetapi karena kendalanya sangat kompleks baru terealisasi 400 ha saja. Tetapi kita belum dapat pastikan, apakah tahun depan proyek ini akan lanjut pengembangannya,” tutur Wisnuardhana.

Dikatakan, proyek perkebunan tebu tersebut digarap oleh tripartit yaitu kerja sama antara pemerintah dalam hal ini Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura Dan Perkebunan Provinsi Bali, PT PN11 penyedia bibit dan Koperasi Tebu sebagai pemberi kredit untuk biaya tanam dan pemeliharaan.

“Dari pemerintah sudah tersalur bantuan bibit dan juga pupuk, sementara dari PT PN11 sebagai penyedia bibit tidak mampu memenuhi kebutuhan bibit alias kurang dari yang ditargetkan. Sementara dari koperasi yang seharusnya memberikan kredit untuk biaya tanam dan pemeliharaannya, kreditnya tidak cair sehingga dari target 1.200 ha hanya terealisasi 400 ha,” tukasnya.

Di sisi lain dari segi perkembangan tanaman diakui juga mengalami sedikit hambatan, akibat cuaca ekstrim di Grokgak, apalagi musim kemarau tahun ini sangat panjang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. “Jadi ada beberapa hektar kebun tebu yang kekeringan karena sumberdaya air sangat terbatas. Tetapi sudah mulai panen dan sudah mulai jualan juga.Tebu hasil panen disalurkan oleh koperasi tebu ke pabrik gula Asembagoes di Jawa timur,” ungkapnya.

Untuk ke depan dikatakan proyek tersebut akan dikaji, karena untuk budi daya tebu sumber daya air harus ada. “Kita lihat dulu, apakah tahun ini akan ada bantuan sumber air, bantuan sumur tanah dangkal. Kalau bantuan ini ada akan kita kembangkan lagi tebunya, kalau tidak ada kita tidak akan kembangkan lagi,” tukasnya.

Namun keunggulan dari budi daya tebu ini, adalah dengan sekali tanaman dapat dilakukan panen secara terus-menerus hingga 5 tahun baru harus dilakukan penanaman ulang. Proyek yang dimulai pada pemerintahan Gubernur Pastikan tersebut awalnya dipilih sebagai salah satu komoditas yang mempunyai nilai ekonomis dan diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan peningkatan pendapatan petani apalagi pasarnya sudah jelas.

Selama ini petani lahan kering di Kecamatan Gerokgak hanya dapat mengusahakan lahannya dengan menanam palawija sekali dalam setahun saat musim hujan. Dengan adanya pengembangan tanaman tebu, sebagian lahannya dapat ditanami sepanjang tahun. Adanya pengembangan tebu ini juga diharapkan dapat menghasilkan limbah untuk menunjang ketersediaan pakan ternak khususnya sapi yang populasinya cukup banyak di Buleleng. *pur

BAGIKAN