Catatan Akhir Tahun 2019 Harga Tiket Mahal, Kunjungan Wisdom Merosot

SELAMA 2019, pariwisata Bali sempat mengalami beberapa cobaan sebagai dampak dari sebuah kebijakan

WISDOM - Sejumlah wisatawan domestik saat tiba di Bali melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

SELAMA 2019, pariwisata Bali sempat mengalami beberapa cobaan sebagai dampak dari sebuah kebijakan. Sebut saja salah satunya adalah kenaikan harga tiket pesawat udara di awal tahun. Praktis, hal ini membuat jumlah kunjungan wisatawan, utamanya wisatawan domestik (wisdom) ke Bali anjlok meski tidak signifikan. Kondisi yang sama juga dialami hampir seluruh destinasi wisata di Indonesia. Mengapa demikian? Berikut laporannya.

Pada pertengahan tahun, Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) sempat menyampaikan bahwa kunjungan wisdom mengalami penurunan, meski pascalibur Lebaran dan memasuki liburan sekolah saat itu. Penurunan tersebut disebabkan harga tiket pesawat yang masih mahal serta pembukaan jalan tol dari Jakarta hingga Jawa Timur. “Dampaknya cukup besar, kalau lihat penurunan month on month (Mei 2018 ke Mei 2019) sekitar 12 persen,” kata Cok Ace.

Ia juga sempat memantau beberapa objek wisata yang biasanya ramai dikunjungi wisdom, ternyata memang berkurang. Berdasarkan data, penurunan wisdom ke Bali mencapai 20-30 persen.

Sementara itu, pengamat pariwisata Bali, I Wayan Puspanegara melihat pariwisata Bali secara agregat akhir-akhir ini mengalami pertumbuhan yang fluktuatif tetapi tetap dalam tren positif dilihat dari data statistik kunjungan wisdom maupun wisatawan mancanegara (wisman). Kunjungan wisdom ke Bali juga diproyeksi tidak mencapai target karena banyak persoalan mendasar, seperti naiknya harga tiket pesawat sehingga menjadi relatif mahal, munculnya destinasi baru di luar Bali seperti program Bali Baru sehingga terjadi perubahan pola berwisata. “Terkait tiket pesawat yang relatif mahal, secara direct berpengaruh pada penurunan kunjungan wisdom ke Bali yang ditengarai hingga 10-15 persen,” kata Puspanegara.

Sementara penurunan jumlah kunjungan wisman disebabkan oleh berbagai hal, di antaranya di awal tahun terjadi pelambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Selain itu pada tahun-tahun sebelumnya Tiongkok menjadi kontributor terbesar wisman ke Bali, namun adanya persoalan toko dan guide Cina ilegal berdampak pada penurunan kurang lebih 30 persen kedatangan wisman Cina ke Bali. Didahului dengan berhentinya banyak charter flight dari Cina ke Bali, bahkan Garuda ikut-ikutan menghentikan penerbangan PP ke Tiongkok, meski Australia masih meningkat di kisaran 3,8 persen. “Turunnya jumlah wisman ke Bali mengakibatkan target 7 juta wisman tidak tercapai. Penyebab lainnya adalah masalah sampah, kemacetan lalu lintas, kriminalitas, tata ruang yang tidak berimbang serta adanya perilaku yang cenderung tidak mendukung suatu destinasi,” katanya.

Agar mampu bertumbuh di tahun mendatang, tokoh masyarakat Legian ini berharap pariwisata Bali harus segera dibenahi atau diperkuat pada lima hal dasar. Kelima hal tersebut, yakni infrastruktur, sarana dan prasarana pariwisata hingga aksesibilitas yang mudah dan nyaman; keamanan dan kenyamanan dengan pelibatan partisipasi aktif masyarakat; service atau pelayanan menuju world class; promosi atau branding; serta memperkaya destinasi dengan atraksi baru atau menemukan destinasi baru agar tidak monoton.

Wakil Ketua Umum DPP Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), I Made Ramia Adnyana pun mengakui terjadi penurunan kunjungan wisdom ke Bali akibat harga tiket pesawat yang terlalu tinggi. “Lebih dari 30 persen penurunan kunjungan wisdom ke Bali,” katanya.

Namun, dirinya melihat penurunan jumlah wisdom tidaklah berpengaruh besar terhadap pariwisata Bali secara umum. Buktinya, Bali masih menjadi pilihan untuk berlibur di akhir tahun ini dan Bali tetap menjadi primadona untuk End of Year Celebration. “Kondisi okupansi akhir tahun di Bali berkisar 85-95 persen dan beberapa hotel sudah fully booked,” ujar Wakil Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi PHRI Kabupaten Badung ini.

Kondisi ini sangat didukung oleh keamanan menjelang tahun baru terlihat kondusif. Apalagi, pihak keamanan sudah melakukan persiapan terkait pengamanan libur akhir tahun di Bali. “Jumlah wisdom keseluruhan mencapai 312 juta orang, ini sangat penting perannya dalam pembangunan pariwisata Indonesia termasuk Bali. Sebab di tahun 2018 lalu Bali mampu menerima hampir 10 juta wisdom,” katanya.

Meski demikian, sudah tentu di tahun 2020 mendatang ada harapan-harapan dari para pelaku pariwisata guna mendongkrak kembali pasar domestik. “Kami berharap agar pemerintah menurunkan harga tiket pesawat sehingga perputaran wisdom menjadi makin optimal dengan mengunjungi destinasi-destinasi baru di Indonesia,” harap Ramia. *dar

BAGIKAN