Kinerja pertumbuhan ekonomi Bali pada 2019 masih tetap tumbuh kuat. Hal tersebut tercermin dari kinerja pertumbuhan ekonomi yang resilient dan berada di atas pencapaian ekonomi nasional, meski di tengah kondisi ekonomi global yang masih menghadapi tekanan. Berikut pertumbuhan ekonomi Bali dan inflasi per triwulannya sepanjang 2019.

EKONOMI Bali sangat bergantung dengan faktor eksternal berupa ekspor jasa dan barang. Kondisi ini masih dapat tetap tumbuh tinggi pada 2019 yang diperkirakan 5,40-5,80 persen (yoy) dan diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi pada 2020 dalam kisaran 5,70-6,10 persen (yoy).

Berdasarkan historisnya, kinerja perekonomian Bali pada triwulan I 2019 tumbuh 5,96 persen year on year (yoy). Begitu pula pada triwulan II 2019 masih tetap tumbuh kuat meskipun melambat dibanding triwulan sebelumnya. Triwulan II perekonomian tumbuh 5,64 persen lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,96 persen yoy maupun triwulan yang sama 2018 yang tumbuh 6,05 persen yoy. Dari sisi permintaan, perlambatan bersumber dari melambatnya kinerja seluruh komponen pengeluaran yaitu komponen konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor luar negeri.

Hal yang sama terjadi pada sisi penawaran, lapangan usaha akomodasi makan dan minum yang sebelumnya menjadi andalan perekonomian terkait dengan banyaknya wisatawan mancanegara yang datang kembali, pada triwulan ini banyak menghadapi tantangan. Selain itu kelambatan terjadi hampir semua lapangan usaha utama Bali, kecuali pertanian. Beberapa faktor yang menjadi penahan kinerja ekonomi Bali meliputi menurunnya kerja bidang usaha pariwisata, proyek konstruksi dan infrastruktur yang tidak semasif periode sebelumnya. Sikap wait and see pelaku usaha menanti kebijakan presiden terpilih dan melambatnya kinerja ekonomi negara mitra dagang utama Bali.

Kepala Kantor Perwakilan BI Bali, Trisno Nugroho menyebutkan, pada triwulan III 2019 tumbuh cukup kuat 5,34 persen yoy) dengan penopang dari konsumsi rumah tangga dan net ekspor. Sementara komponen konsumsi pemerintah dan investasi mengalami perlambatan sehingga pertumbuhan pada triwulan laporan lebih rendah dari triwulan sebelumnya. Dari sisi penawaran, lapangan usaha pertanian sebagai salah satu lapangan usaha utama di Bali mengalami perlambatan. Selain itu, lapangan usaha konstruksi dan lapangan usaha perdagangan juga mengalami perlambatan.

Beberapa faktor yang menjadi penahan kinerja ekonomi Bali meliputi, berlangsungnya kemarau yang lebih kering dan lebih lama. Bergesernya waktu pekerjaan beberapa proyek konstruksi dan infrastruktur. Tertahannya realisasi dana alokasi khusus (DAK) karena adanya tambahan persyaratan administrasi pencairan.

Selanjutnya ekonomi Bali pada triwulan IV 2019, kata dia diperkirakan akan tetap tumbuh kuat dengan kisaran 5,10-5,50persen (yoy), ditopang oleh membaiknya kinerja konsumsi pemerintah, investasi dan kinerja ekspor luar negeri. Kondisi ini juga didukung oleh beberapa prompt leading indikator berupa peningkatan pertumbuhan jumlah kedatangan penumpang di Bandara Ngurah Rai, meningkatnya hasil survai konsumsi berupa indeks keyakinan konsumen (IKK) dan indeks ekspektasi konsumen (IEK), perbaikan pertumbuhan jumlah kunjungan wisman dan peningkatan konsumsi listrik rumah tangga serta akselerasi kredit investasi.

Namun bila dibandingkan dengan triwulan III 2019, pertumbuhan pada triwulan IV 2019 akan lebih rendah (melambat) disebabkan oleh terbatasnya anggaran rumah tangga karena telah terserap untuk tahun ajaran baru dan liburan sekolah, musim kemarau yang berlangsung lebih kering dan lebih lama, berakhirnya masa panen perkebunan dan tabama sebagaimana triwulan sebelumnya, base effect masifnya pengerjaan konstruksi mendukung penyelenggaraan IMF-WB AM 2018.

Bagaimana dengan perkembangan inflasi? Inflasi Bali pada triwulan III 2019 tercatat 2,54 persen (yoy), lebih tinggi dibanding realisasi inflasi triwulan II 2019 mencapai 2,14persen (yoy). Meskipun demikian, laju inflasi tersebut lebih rendah dibanding realisasi inflasi nasional pada periode yang sama 3,39 persen (yoy).

Dengan demikian, realisasi inflasi Bali pada triwulan III 2019 masih dalam sasaran inflasi Nasional yaitu 3,5persen±1persen (yoy). Terjaganya inflasi di Bali tersebut, didukung oleh tetap solidnya upaya pengendalian inflasi yang dilakukan BI dan pemerintah daerah serta stakeholder lainnya dalam wadah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Sementara inflasi Bali pada triwulan IV 2019 diprakirakan akan melandai dibanding triwulan III 2019, yaitu mendekati batas bawah 3,50 persen ± 1 persen (yoy). Kondisi tersebut sejalan dengan berakhirnya musim kemarau, dimulainya panen cabai di beberapa daerah sentra produksi, serta terjaganya pasokan bahan pangan. Sejalan dengan itu, inflasi 2019 juga diprakirakan melandai dibanding 2018, yaitu mendekati batas bawah 3,50 persen ± 1persen (yoy), didukung oleh penurunan tarif angkutan udara, terjaganya pasokan komoditas strategis, terjaganya harga BBM bersubsidi serta soliditas TPID dalam pengendalian inflasi daerah. *dik

BAGIKAN