Bali Culinary Entrepreneur Festival, Dorong Pertumbuhan UMKM Kuliner  

Sektor perbankan mulai Bank Perkreditan Rakyat (BPR) KAS, bekerja sama dengan Kadin Bali, BNI 46 dan BJB (Bank Jabar) menggelar ”Bali Culinary Entrepreneur Festival (BCEF)”.

18
KULINER - Perbankan dan Kadin Bali terus berusaha untuk menumbuhkan sektor UMKM di bidang kuliner.

Denpasar (bisnisbali.com) –Sektor perbankan mulai Bank Perkreditan Rakyat (BPR) KAS, bekerja sama dengan Kadin Bali, BNI 46 dan BJB (Bank Jabar) menggelar ”Bali Culinary Entrepreneur Festival (BCEF)”. BCEF ini bertujuan menumbuhkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan mengupas mendalam pahit manisnya bisnis kuliner.

Direktur BPR KAS, I Gusti Gede Dharmanta, Sabtu (21/12) mengatakan, pemerintah mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui kegiatan wirausaha. Hal tersebut dilakukan demi terciptanya pemerataan dan pertumbuhan ekonomi. Kemajuan sebuah negara ditandai dengan hadirnya wirausaha dalam jumlah dan kualitas yang baik.

Saat ini rasio pengusaha khususnya di Bali baru mencapai 7 persen dari total jumlah penduduk di Bali. Terdapat beragam jenis bisnis yang dapat dikerjakan pemula maupun pebisnis berpengalaman, salah satunya adalah bisnis kuliner.

Dharmanta menjelaskan, bisnis kuliner merupakan salah satu bisnis yang saat ini berkembang pesat dan memiliki potensi berkembang yang cukup besar. Masyarakat kini mulai gemar memburu beberapa aneka menu makanan baik makanan tradisional, nasional, maupun internasional.

Pada masa kini, kebutuhan akan makanan dan minuman tidak lagi menjadi kebutuhan dasar semata yang harus dipenuhi, melainkan sudah menjadi tren di kalangan masyarakat. Hal tersebut tampak dari aktivitas makan dan minum bersama teman atau kerabat yang dimanfaatkan juga sebagai ajang sosialisasi atau kumpul bersama. Pengusaha bisnis kuliner berlomba-lomba menciptakan ide kreatif dalam mengembangkan bisnis kulinernya.

Berbagai penawaran dibuat untuk menarik konsumen mengunjungi restoran tersebut, namun tidak sedikit pula pelaku usaha kuliner yang gulung tikar. Hal tersebut terjadi karena banyak hal, seperti kurangnya modal, minimnya inovasi dalam segi rasa maupun pelayanan, tidak mampu bertahan dalam persaingan, kurang menerapkan strategi pemasaran, maupun memiliki ide-ide baru namun tidak bisa merealisasikan dengan benar.

Oleh karena itu, Dharmanta menegaskan, BPR KAS Indonesia peduli dengan perkembangan pengusaha maupun UMKM di Bali menyelenggarakan Bali Culinary Entrepreneur Festival dengan tema “Asam Manis Bisnis Kuliner”. Melalui acara ini diharapkan peserta memiliki wawasan untuk memulai menjadi entrepreneur serta bertahan dan bersaing dalam persaingan pasar bagi yang telah terjun di bidang bisnis kuliner.

Tujuh pembicara Bali Culinary Entrepreneur Festival meliputi Coach Ben Abadi, I Gusti Bagus Wirajaya selaku owner Gosha Kitchen and Pattiserie, Andre Salim selaku owner dari As Kitchen, Adrian Worek selaku CEO CASA Studio Bali, Gede Subianta Eka Kresnawan dari Ayam Geprek Juara, Ing Angga Sumantri selaku owner Ayam Geprek Madagaskar, serta Arya dan Sandita selaku owner Ngocok Es Kopi. Semua pembicara mengupas peluang dan hambatan yang terjadi di dalam bisnis kuliner. Ini membantu calon pengusaha kuliner, dan pelaku usaha kuliner untuk tumbuh mampu bertahan dan mengembangkan usaha di bidang kuliner.

Coach Ben Abadi menyampaikan kendala dalam pengembangan bisnis kuliner, karena tidak memiliki standard operating procedure (SOP) yang jelas. Hal ini menyebabkan bisnis kuliner mengalami penurunan atau kalah bersaing.

Untuk bisa bertahan dalam persaingan bisnis kuliner, pelaku bisnis kuliner wajib memiliki SOP yang jelas. Pelaku usaha kuliner mesti menutupi kebocoran bahan-bahan baku untuk memasak.

Ben Ababi menegaskan, jangan sampai pesanan pelanggan atau konsumen tidak bisa terlayani, karena kekurangan bahan-bahan untuk memasak.  Perlu dipastikan stok bahan baku kuliner tetap ada sesuai kebutuhan. Pengiriman bahan-bahan komponen kuliner ini wajib tepat waktu. *kup

BAGIKAN