Kekeringan Berkepanjangan, Swasembada Beras Terancam

Musim kemarau yang relatif panjang pada tahun ini memberikan alarm atau sinyal signifikan terhadap terwujudnya pencapaian tujuan pembangunan pertanian di Indonesia termasuk Provinsi Bali,

TERANCAM - Kekeringan diprediksi akan mengancam swasembada beras. Tampak panen di sebuah areal persawahan di Bali.

Denpasar (bisnisbali.com) –Musim kemarau yang relatif panjang pada tahun ini memberikan alarm atau sinyal signifikan terhadap terwujudnya pencapaian tujuan pembangunan pertanian di Indonesia termasuk Provinsi Bali, khususnya yang berkenaan dengan ketersediaan produksi padi (beras). Swasembada beras dapat terancam jika kondisi ini tidak ditangani secara serius oleh subak dan juga pemerintah.

Menurut Rektor Universitas Dwijendra Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., M.MA, di Denpasar, Jumat (13/12) kemarin mengungkapkan, musim kemarau ini memberikan dampak terhadap menurunnya debit air di tingkat sumber seperti sungai. Kondisi ini mengakibatkan air irigasi yang mengalir melalui bendungan ke petak-petak sawah sangat terbatas. Oleh karena itu, para petani yang biasanya pada awal Desember sudah melakukan pengolahan tanah, tetapi saat ini belum bisa dilakukannya.

“Jika musim kemarau ini belum juga berakhir, para petani sebagai anggota subak memiliki keragu-raguan untuk melakukan penanaman padi. Kondisi ini juga bisa menghambat tercapainya swasembada beras di tingkat provinsi,” tuturnya.

Jelas Ketua HKTI Buleleng ini, subak sebagai organisasi pengelola irigasi tradisional masih memiliki keyakinan bahwa musim hujan akan segera tiba. Kondisi itu berbekal dari pengalaman tahun sebelumnya sebagai petani di lahan sawah, dan juga kekuatan budaya bertani di tingkat subak.

Bercermin dari itu, sambungnya, para petani harus makin sigap untuk segera melakukan persiapan lahan (pengolahan lahan) jika kondisi air irigasi mulai memungkinkan untuk mengairi sawah. Terangnya, informasi dari BMKG mengenai prediksi cuaca agar dapat menjadi referensi bagi para petani (subak) di dalam menyiapkan diri untuk mengambil langkah awal dalam menentukan waktu pengolahan lahan.

“Sistem distribusi air di tingkat subak dapat dilakukan secara staggering di tahap awal musim hujan sebelum dilanjutkan dengan continuous flow jika curah hujannya makin tinggi,” paparnya.

Di sisi lain pemerintah khususnya, Dinas Pertanian agar memberikan pendampingan makin intensif untuk mempercepat proses pengolahan lahan dan melakukan transplanting dan disesuaikan dengan kearifan lokal, yaitu hari baik untuk penanaman. Pilihan varietas padi juga menjadi salah satu aspek penting guna mengatasi terlambatnya musim tanam tanaman padi tersebut. Varietas yang dimaksudkan adalah menyangkut kemapuan produktivitas, ketahanan terhadan serangan hama dan penyakit termasuk resposivitasnya terhadap ketersediaan air irigasi.

Sementara itu, guna mengejar keterlambatan musim tanam yang pertama, maka dalam pengelolaan penanaman di musim berikutnya dapat dipercepat, tergantung ketersediaan air irigasi. Efisiensi penggunaan air irgasi menjadi fokus perhatian bagi para petani untuk mengelola usahatani. “Jika situasi ini dapat dilakukan, swasembada beras masih bisa tetap dipertahankan di Bali,” tandasnya. *man

BAGIKAN