Kejar ”Value Added”, Pertanian perlu Dikemas Jadi Wisata Agro

SEKTOR pertanian merupakan kearifan lokal yang menjadi bagian budaya masyarakat Bali.

Sektor pariwisata memang diharapkan  mampu menyerap produk pertanian lokal. Sejauhmana tampilan sektor pertanian lokal Bali sehingga bisa serap dan dinikmati sektor pariwisata?

SEKTOR pertanian merupakan kearifan lokal yang menjadi bagian budaya masyarakat Bali. Dengan sentuhan pariwisata, sektor pertanian akan memberikan nilai tambah setelah dikemas menjadi wisata agro (agrowisata) Ketua DPD Asosiasi Wisata Agro Indonesia (AWAI) Bali, Bagus Sudibya mengungkapkan, budaya pertanian menjadi salah bagian dari keunikan pariwisata Bali. Sudah terbukti budaya pertanian ini digunakan Bali untuk menopang pengembangan pariwisata Bali.

Ia menjelaskan, pengembangan wisata agro wisata mampu mensinergikan pertanian dan pariwisata. Stakeholder pertanian dan pariwisata menciptaan value added atau nilai tambah melalui mengembangkan sektor pertanian untuk kepentingan sektor pariwisata.
Bagus Sudibya yang juga Dewan Pembina DPD ASITA Bali melihat peran pariwisata kongkret menikmati hasil pertanian. Ini dengan peningkatan nilai tambah pertanian untuk sektor pariwisata.

Produk pertanian Bali sudah ditawarkan dalam bentuk produk organik. “Ini tentunya akan memberikan nilai tambah dua kali lipat ketimbang produk anorganik,” ucap Konsul Afrika Selatan untuk Bali ini.
Lebih lanjut dikatakannya, jika seandainya sektor agro ini dikawinkan kepariwisata bisa langsung dirasakan wisatawan.  Ini apalagi wisatawan memiliki kesempatan menginap di tengah kegiatan wisata agro.
Kegiatan agrowisata memberikan sensasi yang tidak dapat dihitung.  Wisatawan tidak bisa menghitung kepuasan dirasakan wisatawan menikmati wisata agro.

Owner Bagus Agro Plaga ini meyakini perkawinan pertanian dan pariwisata bisa diibaratkan lingga yoni. Perkawinan pariwisata dan pertanian merupakan hal yang bersifat pantas terjadi. Ini akan menjadi hubungan simbiose multulitis bagaikan air dengan ikan.  Air merupakan pertanian dan ikan pariwisata.

Bagus Sudibya mengibaratkan air tetap akan eksis tanpa ikan. Sementara ikan tidak bisa hidup tanpa air. Pariwisata lebih membutuhkan pertanian. Selama manusia makan maka pertanian akan bisa tetap hidup. Pariwisata perlu pertanian.

Kelestarian sektor pertanian wajib diperjuangkan. Dunia kepariwisataan membutuhkan pertanian yang bekerlanjutan.   Pelaku pariwisata harus mem-back up dan mencarikan solusi permasalahan yang dihadapi sektor pertanian untuk keberlanjutan pengembangan pariwisata Bali. “Pengembangan sektor pertanian sinergi pariwisata digunakan untuk kesejahteraan masyarakat Bali,” tambah Bagus Sudibya.

Ketua Bali Villa Association (BVA), Gede Sukarta mengatakan pariwisata pasti mendukung sektor pertanian dan perkebunan di Bali jika bisa mensuplai kebutuhan secara kontinyu dengan kualitas yang baik. Perlu adanya regulasi yang mewajibkan industri pariwisata menyerap produksi buah lokal Bali.
Pemerintah wajib membuat regulasi pemasaran buah lokal ke industri pariwisata hotel, vila dan restoran. Sebelum membuat regulasi,  pemerintah mesti mengundang terlebih dahulu  vendor-vendor produk pertanian dan perkebunan buah lokal.

Pemerintah wajib mendengarkan masukan para vendor produk pertanian tersebut. Mereka harus diwajibkan mendukung  pemasaran buah lokal.
Gede Sukarta yang juga Sekretaris PHRI Badung meyakini pengelola akomodasi di Bali memerlukan sistem yang terintegrasi dengan sistem masing-masing properti dalam pemanfaatan produk pertanian lokal. Mereka membeli produk pertanian lokal langsung ke pasar hanya dilakukan saat-saat tertentu saja.  Ini hanya untuk mengecek dan komparasi harga masing-masing produk pertanian.

Pengelola akomodasi yang ingin membeli produk pertanian langsung ke petani bisa dilakukan melalui vendor-vendor yang sudah ada. Vendor tentu sudah mempunyai sistem penjualan yang jelas dalam pemasaran produk pertanian lokal.

Gede Sukarta menambahkan Pemprov Bali agar memberikan insentif kepada pengusaha buah lokal krama Bali. Pemrov Bali bekerja sama dengan bupati/wali kota se-Bali agar lebih mengalokasikan dana untuk pemberdayaan petani buah lokal. “Produk pertanian lokal diharapkan dapat terus di tingkatkan kualitasnya sehingga sepenuhnya bisa diserap sektor pariwisata Bali,” tegasnya. *kup

BAGIKAN