Ekspor Teh Terkendala Bahan Baku

Bali tidak memiliki perkebunan teh, namun ada usaha kecil dan menengah yang memproduksi teh yang dipadukan dengan herbal dan bunga lokal Bali seperti gumitir dan bunga teleng.

19
UKM - Made Tea, salah satu produk UKM yang sudah tembus pasar ekspor.

Denpasar (bisnisbali.com) –Bali tidak memiliki perkebunan teh, namun ada usaha kecil dan menengah yang memproduksi teh yang dipadukan dengan herbal dan bunga lokal Bali seperti gumitir dan bunga teleng. Teh ini bahkan sudah banyak meraih penghargaan di luar negeri, namun untuk memenuhi permintaan ekspor masih terkendala bahan baku.

Produk teh herbal yang diproduksi Made Roni di Peliatan Gianyar tersebut dengan brand Made Tea, sudah banyak permintaan untuk ekspor di antaranya Abu Dhabi, Dubai dan Malaysia. “Permintaan ekspor ini terkendala bahan baku. Sebab, standar kualitas yang mereka tetapkan untuk bahan baku membuat Made Tea, belum bisa dipenuhi oleh petani lokal,” tutur Konsultan Made Tea, Ida Ayu Kencanawati, beberapa waktu lalu di Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, Renon Denpasar dalam temu bisnis buyer dari Polandia.

Lebih lanjut dituturkan, Made Tea ini merupakan teh yang tidak hanya dibuat dari daun teh tetapi dicampur dengan bunga dan daun lainnya seperti bunga gumitir, bunga ratna hingga daun kelor. Sebelum meluncurkan produk Made Tea, menurut Dayu, pemilik Made Tea sempat belajar dulu cara pembuatan teh di Eropa selama tiga tahun. ”Produk ini bahkan mendapatkan penghargaan internasional di Paris dan Singapura,” ujarnya.

Made Tea tidak sekadar teh biasa tetapi memiliki manfaat kesehatan karena mengandung bahan-bahan alami yang mengandung zat-zat baik bagi tubuh. Selain bunga dan daun-daunan, juga ada teh dengan campuran jahe serta serai. ”Semuanya ini sudah melalui uji lab sehingga manfaatnya pasti dan aman. Setiap kita meluncurkan produk pasti diuji lab dulu dan kami sangat didukung oleh Dinas Kesehatan Gianyar,” papar Dayu.

Dayu menambahkan, saat ini pihaknya sedang mengurus izin dari BPOM serta sertifikat halal. Sebab, banyak permintaan ekspor dari Abu Dhabi dan Dubai sehingga harus disertakan sertifikat halal. Untuk bahan baku sendiri, pihaknya menggandeng petani lokal yang ada di Bali. Sementara untuk daun teh didapatkan dari Jawa Barat. Dayu mengaku, standar kualitas bahan baku dari petani inilah yang sulit untuk dipenuhi. Misalkan, untuk bahan baku bunga. Pihaknya memerlukan bahan baku yang bebas dari pestisida. Sayangnya, masih ada petani yang memakai pestisida selama melakukan penanaman bunga. ”Kami biasanya menanam bunga sendiri. Namun, seiring dengan makin banyaknya permintaan, kami menggandeng petani lokal. Sayangnya, masih ada petani yang belum bisa memenuhi standar kualitas bahan baku yang kami inginkan,” katanya.

Ia juga mendapatkan permintaan cukup banyak dari negara Malaysia untuk teh daun kelor. Sayangnya untuk memenuhi permintaan ini terkendala bahan baku. Sebab, daun kelor yang ada di daerah Bali dan Lombok tidak sesuai standar dalam hal kehijauan daun dan kesegarannya. ”Masih banyak yang kuning dan agak layu. Ada standar yang bagus di Jawa Barat tetapi harga jualnya mahal,” papar Dayu.

Sementara harga jual, Made Tea  dibanderol dengan harga Rp 75 ribu ke atas. Selain dilirik ekspor, produk ini sudah masuk swalayan-swalayan besar. *pur

BAGIKAN