Perlu Kerja Keras, Ekonomi Bali Optimistis bisa Tumbuh

EKONOMI Bali masih mampu tumbuh pada semester II karena mengandalkan perkembangan dunia kepariwisataan yang masih menggeliat.

Ekonomi Bali pada semester II/2019 optimis masih mampu tumbuh. Kendati demikian, kerja keras untuk mewujudkan hal tersebut harus tetap dilakukan karena tantangan masih siap menghadang. Seperti apa?

EKONOMI Bali masih mampu tumbuh pada semester II karena mengandalkan perkembangan dunia kepariwisataan yang masih menggeliat. Sektor pariwisata Bali diyakini mampu tumbuh dan terbukti teruji saat kondisi ekonomi 2018 silam. Sektor pariwisata masih memiliki petensi cukup besar dalam mendatangkan wisatawan Nusantara dan mancanegara. Berkat dukungan objek wisata serta atraksi budaya mampu menjadikan Bali sebagai destinasi dunia. Imbasnya, tentu sektor ekonomi pendukung pariwisata akan ikut tumbuh.

Pemerhati ekonomi, Kusumayani, M.M. menilai, pertumbuhan ekonomi Bali pada semester II masih dapat tumbuh positif dengan melihat proyeksi pertumbuhan perekonomian di Bali menunjukkan tren positif dan laju inflasi dalam kisaran 3,5%±1% year on year (yoy) sepanjang 2019 ini.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan kondisi ekonomi Bali semester II ini,” katanya.

Menurut dia, andalan Bali yaitu pariwisata akan menyumbang potensi tersebut. Pencapaian inflasi Bali pada November 0,03 persen (mtm) juga  tercatat lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang tercatat 0,14 persen (mtm). Sementara itu secara tahunan, inflasi Bali tercatat 2,46 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan nasional yang mencapai 3 persen (yoy). Peluang untuk mendatangkan wisatawan ke Bali masih cukup besar. Karenanya, peluang-peluang ini harus terus ditingkatkan. Atraksi budaya mulai dari kesenian hingga ritual keagamaan harus dikemas baik oleh pelaku pariwisata sehingga tidak monoton namun menjadi suatu tontonan menarik bagi para wisatawan. Dari sisi kerajinan khas Bali juga masih mampu berbicara banyak di dunia ekspor.

“Intinya adalah kerja keras untuk dapat bangkit menuju pertumbuhan ekonomi yang baik karena kondisi ekonomi global masih akan membayangi,” terangnya.

Sementara Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali juga menaruh optimisme pertumbuhan ekonomi Bali pada semester II akan tumbuh lebih baik. Tantangan perekonomian masih dari suku bunga perbankan yang saat ini mulai mengalami penyesuaian hingga BI 7 day repo rate turun.

“Kuncinya adalah terus melakukan pembenahan dan perbaikan di segala sektor,” kata Kepala KPw BI Bali, Trisno Nugroho.

Ia memaparkan, pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan IV 2019 diperkirakan akan berada dalam kisaran 5,60 persen sampai 6 persen year on year. Pertumbuhan mengalami perlambatan dibandingkan triwulan III 2019. Prospek ekonomi Bali pada triwulan IV 2019 diperkirakan mengalami perlambatan kinerja dari sisi permintaan disebabkan oleh tertahannya kinerja tiga komponen utama ekonomi Bali.

Trisno menyampaikan meskipun diperkirakan tumbuh melambat, masih terdapat beberapa faktor yang berpotensi mendorong kinerja perekonomian Bali pada 2019 yaitu berlanjutnya pengerjaan proyek infrastruktur maupun konstruksi di Bali. Itu meliputi pembangunan bendungan Sidane, dimulainya pengerjaan bendungan Tamblang, RET Bandara Ngurah Rai, pengembangan pelabuhan Celukan Bawang, pengerjaan shortcut jalan titik 5-6 dan 3-4, pengembangan kawasan Nusa Dua serta peningkatan kapasitas jalan dan jembatan serta bangunan milik pemerintah diperkirakan akan mendukung kinerja konstruksi dan investasi pada 2019.

Begitu pula pelaksanaan kegiatan pemilihan umum legislatif dan pemilihan umum presiden pada 2019 berpotensi mendorong akselerasi kinerja konsumsi pemerintah dan LNPRT dari sisi permintaan sementara dari sisi penawaran akan meningkatkan kinerja industri pengolahan.

BI juga menilai upaya peningkatan dan pengembangan promosi termasuk melalui Balibeyond and travel fair dan penambahan direct flight internasional berpotensi mendorong kinerja ekonomi Bali khususnya ekspor luar negeri, lapangan usaha dan transportasi. Sejalan dengan itu, peningkatan upaya promosi pengembangan produk dan destinasi wisata termasuk Bali dan pengembangan pasar alternatif wisatawan mancanegara India dan Timur Tengah yang diikuti dengan peningkatan pelayanan dan pengembangan Bali and beyond serta produk dan destinasi wisata berpotensi mendorong kinerja ekonomi Bali.

“Upaya peningkatan produksi pertanian melalui intensifikasi pertanian pertanian khususnya untuk komoditas tanaman bahan makanan melalui gerakan pengolahan pertanian tanaman terpadu berupa penyediaan benih bersertifikat bantuan pupuk dan sarana produksi serta pendampingan dan bantuan teknis yang diikuti oleh perbaikan jaringan irigasi berpotensi mendorong kinerja pertanian pada 2019,” paparnya.

Peningkatan kinerja lapangan usaha pertanian juga diperkirakan akan makin signifikan sejalan dengan mulai beroperasinya waduk Titab pada awal 2019 yang mengairi lahan pertanian seluas 1.795 hektar dan mendorong peningkatan indeks penanam padi menjadi 275 persen dari sebelumnya 169 persen untuk luasan lahan tersebut.

“Akselerasi kinerja pertanian juga didorong oleh upaya perbaikan saluran irigasi primer sekunder maupun tersier yang telah dilakukan maupun akan dilakukan pada 2019 diperkirakan mendorong akselerasi kinerja pertanian khususnya komoditas pangan,” jelasnya.

Hal sama dikatakan pemerhati ekonomi Dewi Wijayanti, M.M. Kata dia perekonomian Bali pada semester II/2019 ini, akan tumbuh lebih baik dibandingkan dengan triwulan I 2019, demikian juga untuk keseluruhan 2019. Membaiknya pertumbuhan ekonomi tersebut, didorong oleh perkiraan perbaikan kinerja perekonomian global pada 2019 (meskipun masih tumbuh terbatas), sehingga diperkirakan akan berdampak pada perbaikan kinerja ekspor luar negeri barang dan jasa, seiring dengan peningkatan permintaan ekspor. Selain itu, konsumsi rumah tangga pada 2019, diperkirakan akan mulai mengalami perbaikan kinerja, seiring dengan kenaikan UMP dan terjaganya harga BBM, elpiji dan TTL serta inflasi yang terkendali.

“Komitmen pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan perekonomian, terutama pembangunan infrastruktur, diperkirakan akan turut mendorong peningkatan kinerja konsumsi pemerintah dan investasi,” ujarnya.

Peningkatan kinerja investasi, juga diperkirakan akan didorong oleh optimisme pelaku usaha ke depan, seiring dengan adanya penurunan BI 7DRR yang akan diikuti oleh penurunan suku bunga kredit perbankan menuju single digit. *dik 

BAGIKAN