Kemarau, Target AUTP tak Tercapai

Target lahan tanaman padi petani di Kabupaten Tabanan yang ikut program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) pada 2019 tidak tercapai.

26

Tabanan (bisnisbali.com) –Target lahan tanaman padi petani di Kabupaten Tabanan yang ikut program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) pada 2019 tidak tercapai. Saat ini lahan yang terdaftar hanya 9.631,98 hektar dari target 10.000 hektar pada tahun ini.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Tabanan, I Gusti Putu Wiadnyana, di Tabanan, Kamis (5/12) kemarin mengungkapkan, jumlah 9.631,98 hektar tersebut terdiri atas swadaya mencapai 1.091,27 hektar dan bersumber dari tambahan pembiyaan APBD tingkat II (AUTP gratis) mencapai  8.540,71 hektar. Imbuhnya, tidak tercapainya target AUTP ini karena adanya sejumlah kendala di lapangan. Salah satunya, tidak adanya kejelasan musim tanam di tengah kondisi kemarau panjang yang masih terjadi hingga kini.

“Kemarau panjang ini membuat kesulitan bagi petugas di tingkat kecamatan guna mendata atau mendaftarkan luasan sawah untuk program AUTP, karena berkurangnya luasan tanam padi,” tuturnya.

Jelas Wiadnyana, sampai awal Desember 2019 dari luasan sawah yang sudah terkaver AUTP, saat ini sudah ada dilakukan pembayaran klaim dengan luas mencapai 47,17 hektar atau setara dengan Rp 283.020.000. Selain itu, katanya, saat ini juga ada klaim yang sedang dalam tahap diproses oleh pihak PT Jasindo (perusahaan yang diajak kerja sama pemerintah pusat dalam klaim asuransi) untuk pembayaran seluas 36.68 hektar atau setara dengan Rp 220.080.000.

“Hari ini juga ada laporan baru masuk ke dinas untuk pengajuan klaim mencapai 14,75 hektar atau setara dengan nilai Rp 88.500.000,” ujarnya.

Lanjutnya, klaim yang sudah dibayarkan tersebut rata-rata merupakan laporan awal tahun dan dominan disebabkan oleh dampak serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Sementara, untuk klaim yang masih tahap proses, termasuk juga yang baru dilaporkan ini rata-rata merupakan dampak yang diakibatkan oleh kekeringan atau gagal panen. Sebab paparnya, salah satu syarat untuk mendapatkan klaim adalah dengan catatan umur padi sudah melewati 10 hari dari masa tanam, namun mengalami kerusakan sehingga berakibat gagal panen.

“Klaim untuk kekeringan ini dilaporkan terjadi di antaranya, sejumlah subak di Selemadeg Barat, Baturiti, dan Penebel,” paparnya.

Sementara itu, diakuinya, seiring dengan menurunnya luasan tanam padi di Kabupaten Tabanan karena dampak dari kemarau berkepanjangan ini, kondisi tersebut berpotensi akan menurunkan juga produksi padi di Tabanan tahun ini. Terangnya, sebagai gambaran bercermin dari tahun sebelumnya, rata-rata produktivitas padi di Kabupaten Tabanan ada di kisaran 211.178 ton per tahun, kemungkinan tahun ini kondisinya menurun. *man

BAGIKAN