Produk UMKM harus Berorientasi Pasar

Generasi milenial yang kini menjadi pasar produk handycraft memiliki kebutuhan yang berbeda dengan pasar sebelumnya

13

Gianyar (bisnisbali.com) – Generasi milenial yang kini menjadi pasar produk handycraft memiliki kebutuhan yang berbeda dengan pasar sebelumnya. Oleh karena itu, produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) harus berorientasi pasar, sehingga bisa diterima kaum milenial.

Ketua Asosiasi Eksportir dan Produsen Handycraft Indonesia (Asephi) Bali, Ketut Dharma Siadja, Selasa (3/12) mengatakan, sejak krisis ekonomi 2009, ekspor produk kerajinan Bali menunjukkan tren penurunan. Hal ini terlihat dari aktivitas sentra-sentra produksi kerajinan telah mengalami penurunan aktivitas produksi.

Ia mencontohkan produksi handycraft di Pujung Tegallalang, Tampaksiring dan Kuta produksi handycraft terlihat lesu. Pujung Tegallalang  yang dulu sentra kerajinan handycraft aktifitas produksi agak lesu. Tidak sedikit perajin beralih profesi lain menyikapi penurunan permintaan handycraft.

Ia mengatakan, melihat pergeseran pasar ke kaum milenial harus mendorong perajin untuk mengubah paradigma pasar. Pelaku UMKM diminta membuat terobosan-terobosan untuk memenuhi pasar. “Ketika keinginan pasar sudah dipahami maka produk yang akan dihasilkan bisa memenuhi kebutuhan pasar,” jelas Dharma Siadja.

Ia menegaskan, pelaku UMKM mesti mengedepankan market oriented. Paradigma pasar sebelumnya memang produk UMKM didasarkan product oriented.Dharma Siadja menambahkan, perajin sebelumnya masih berorientasi membuat produk sebaik-sebaiknya sehingga bisa diterima pasar. Saat ini berbeda, pelaku UMKM harus berorientasi kepada pasar (market oriented), sehingga setiap produk yang diproduksi diterima pasar milenial. *kup

BAGIKAN