November, Denpasar Deflasi lagi

Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat Pulau Dewata mengalami deflasi -0,01 persen pada November 2019.

12

Depasar (bisnisbali.com) –Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat Pulau Dewata mengalami deflasi -0,01 persen pada November 2019. Kondisi tersebut sekaligus memposisikan bahwa ibu kota Provinsi Bali ini mengalami deflasi untuk ketiga kalinya sepanjang 2019.

Kepala BPS Bali, Adi Nugroho, di Denpasar, Senin (2/11) kemarin mengungkapkan, November 2019 perkembangan harga berbagai komoditas di Denpasar secara umum stagnan dengan kecenderungan adanya penurunan. Berdasarkan hasil pemantauan BPS di Denpasar, pada November 2019 terhitung deflasi -0,01 persen atau penurunan indeks harga konsumen (IHK) dari 133,56 pada Oktober 2019 menjadi 133,54 pada November 2019.

“Posisi tingkat inflasi tahun kalender November 2019 tercatat setinggi 1,55 persen, sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun (November 2019 terhadap November 2018) tercatat setinggi 2,34 persen,” tuturnya.

Jelas Adi, deflasi yang terjadi di Denpasar, ditunjukkan dengan menurunnya indeks pada tiga kelompok pengeluaran, yakni kelompok VII (transpor, komunikasi, dan jasa keuangan) hingga -0,49 persen, disusul kelompok IV (sandang) -0,26 persen, dan kelompok I (bahan makanan) hingga -0,10 persen. Di sisi lain, pada periode yang sama empat kelompok pengeluaran yang tercatat mengalami inflasi yakni, kelompok III (perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar) setinggi 0,29 persen, kelompok V (kesehatan) 0,18 persen, kelompok II (makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau) setinggi 0,09 persen, dan kelompok VI (pendidikan, rekreasi, dan olahraga) setinggi 0,07 persen.

Dari data BPS Bali tercatat komoditas yang mengalami penurunan harga atau memberikan sumbangan deflasi pada November 2019 antara lain, tarif angkutan udara, cabai rawit. Selain itu, cabai merah, pindang tongkol, ikan tongkol, cumi-cumi, telur ayam ras, sandal karet, apel dan udang basah. Sementara itu, komoditas yang tercatat menahan laju deflasi antara lain, bawang merah, tarif sewa rumah, daging ayam ras, tarif kontrak rumah, jeruk, tomat sayur, buncis, sawi hijau, ketimun dan bahan bakar rumah tangga (elpiji).

November 2019 deflasi tercatat disumbangkan oleh kelompok VII  dengan andil deflasi -0,0891 persen, kelompok I dengan andil deflasi -0,0190 persen, dan kelompok IV dengan andil deflasi -0,0129 persen. Sementara itu, kelompok pengeluaran yang menahan laju deflasi yaitu kelompok III dengan andil inflasi 0,0728 persen, kelompok II dengan andil inflasi 0,0163 persen, kelompok V dengan andil inflasi 0,0105 persen, serta kelompok VI dengan andil inflasi 0,0065 persen.

Bercermin dari itu, sampai November 2019 diperoleh hitungan inflasi tahun kalender Denpasar setinggi 1,55 persen. Laju inflasi tahun ke tahun (November 2019 terhadap November 2018) tercatat setinggi 2,34 persen. Jika dilihat tiga tahun sebelumnya, inflasi tahun kalender November Denpasar berturut-turut setinggi 2,24 persen (2016), 2,21 persen (2017), serta 2,61 persen (2018). Sementara itu, inflasi tahunan November tercatat setinggi 3,21 persen pada 2016,  sedangkan 2,91 persen pada 2017, serta 3,71 persen pada 2018.

Sementara itu, November 2019 lalu secara nasional tercatat dari 82 kota IHK ada 25 kota mengalami deflasi dan 57 kota mengalami inflasi. Deflasi terdalam tercatat di Tanjung Pandan (Bangkal Belitung) mencapai -1,06 persen sedangkan deflasi terdangkal tercatat di Kota Batam (Kepulauan Riau) dan Kota Denpasar (Bali) masing-masing -0,01 persen. Di sisi lain, inflasi tertinggi tercatat di Kota Manado (Sulawesi Utara) setinggi 3,30 persen, sedangkan inflasi terendah tercatat di Kota Malang (Jawa Timur) setinggi 0,01 persen.

“Jika diurutkan dari deflasi terdalam, Denpasar menempati urutan ke-24 dari 25 kota yang mengalami deflasi pada November 2019,” tegasnya. *man

BAGIKAN