Jejaring Pasar yang Luas Jadikan Perempuan Wirausaha Tangguh

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Gusti Ayu Bintang Darmawati, meminta Bupati Karangasem beserta jajaran membantu para ibu rumah tangga atau wanita wirausaha, khususnya yang ada di Karangasem.

14
KERAJINAN - Menteri PPPA Gusti Ayu Bintang Darmawati saat meninjau  hasil kerajinan dari perempuan wirausaha di Karangasem, beberapa hari lalu.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Gusti Ayu Bintang Darmawati, meminta Bupati Karangasem beserta jajaran membantu para ibu rumah tangga atau wanita wirausaha, khususnya yang ada di Karangasem. Bantuan dengan pengembangan kebijakan untuk memberikan perhatian, sehingga muncul para wanita tangguh dalam berwirausaha. Apa saja bentuknya?

MENTERI Bintang Darmawati menyampaikan hal itu, beberapa hari lalu di Karangasem, saat ‘’Bincang Bintang,’’ menghadirkan sejumlah kalangan BUMN, ratusan wanita wirausaha dan dihadiri Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri dan Wabup Wayan Artha Dipa. ‘’Mohon bantu dan berikan perhatian lewat kebijakan kepada para wirausaha, sehingga mereka bisa naik kelas,’’ ujar  Menteri Bintang Darmawati.

Menteri mencontohkan, bentuk perhatian  lewat kebijakan pimpinan daerah, jika wanita ibu rumah tangga itu berwirausaha membuat kue, hendaknya dibeli langsung atau produk mereka diserap  saat di kantor Bupati atau organisasi perangkat daerah  (OPD) ada kegiatan. Di lain pihak, Menteri Bintang yang juga istri mantan Menteri AAG Ngurah Puspayoga itu berpesan agar naik kelas, saat membuat kue, ibu-ibu wirausaha itu harus membuat kue yang rasanya  enak, dan tentunya harus aman bagi kesehatan konsumen. ‘’Kemasannya ataupackaging harus bagus. Wirausaha harus diperhatikan, didampingi pemerintah daerah,  sehingga naik kelas. Misalnya, kalau dulu pemasaran produk kuenya, hanya di warungnya, di warung sekitar wilayahnya atau di pasar terdekat, bisa dikembangkan pemasarannya ke minimarket atau swalayan. Itulah yang namanya naik kelas,’’ papar Menteri.

Wanita menteri pertama dari Bali itu menambahkan, Karangasem sudah dari dulu dikenal memiliki potensi yang besar dan beranekaragam. Ada banyak perajin tenun tradisional atau cagcag yang memproduksi tenun songket. Agar makin naik kelas, pewarnaan harus diperhatikan, kulitasnya dijaga dan desainnya dikembangkan, tanpa menghilangkan ciri khas,  sehingga pemasaran bisa lebih luas.

Soal pemasaran dan pengembangan, tambah Menteri,  pihak BUMN sudah menyatakan siap membantu. ‘’Bapak Menteri BUMN (Erick Tohir-red) sudah menyatakan akan membuka tangan lebar-lebar untuk membantu wirausaha sampai ke desa-desa, termasuk wirausaha perempuan dan pemenuhan hak anak,’’  tambahnya.

Menteri juga menyerukan agar perempuan Indonesia bekerja ulet, berjuang untuk menjadi perempuan tangguh.  ‘’Jadilah perempuan tangguh dan berdaya  dengan berwirausaha. Perempuan kita harus lebih semangat berkarya. Sebab kalau perempuan berdaya, Indonesia maju,’’ tegasnya.

Ditemui usai ‘’Bincang Bintang’’ Menteri Bintang mengakui kendala yang kerap dialami wirausaha, terutama wirausaha UMKM kalangan perempuan, sama yakni kendala pemasaran. Namun, dengan terus-menerus berupaya melakukan perbaikan, perbaikan kualitas, kemasan produk, baik berusaha sendiri atau pun lewat pendampingan dan mengikuti diklat, pemasaran perlahan tidak menjadi masalah. Syaratnya harus meningkatkan kualitas sehingga usahanya naik kelas. Modal saat ini sebenarnya sudah tak menjadi masalah, apalagi nanti kalau pemasaran sudah lancar. ‘’Perluas jejaring pasar, tingkatkan kualitas produk, sehingga usahanya naik kelas. Dengan sendirinya pasar terbuka lebar,’’ tambahnya.

Sementara itu, Bupati Karangasem IGA Mas Sumatri menyampaikan, perempuan di Karangasem termasuk sudah kreatif, dalam menggarap potensi. Perempuan wirausaha atau wanita pengusaha  termasuk memegang kendali, dicontohkan di Karangasem paling banyak pedagang di pasar tradisional dengan sejumlah pasar di Kota Amlapura, sebagian besar para pedagangnya adalah perempuan. Demikian juga pasar-pasar di desa-desa, serta yang membuka warung makan adalah perempuan.  Jarang ada lelaki yang membuka warung, kecuali saat membantu  istrinya berdagang.  Demikian juga, para penenun songket, perajin anyaman ate atau lontar dan membuat sampian adalah kalangan perempuan. ‘’Perhatian juga sudah dan diberikan pelatihan baik di tingkat kabupaten dan desa-desa lewat dana desa juga menggelar pelatihan berbagai jenis keterampilan,  baik untuk PKK atau kelompok wanita,’’ ujarnya. *bud

BAGIKAN