Kejar Devisa Terbesar, ”Event” Pariwisata perlu Diperbanyak

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) di bawah kendali Menteri Wishnutama Kusubandio dan Wakil Menteri Angela Tanoesoedibjo menargetkan sektor pariwisata menjadi penghasil devisa terbesar bagi negara.

NIKMATI OBJEK - Sejumlah wisatawan mancanegara sedang menikmati keindahan objek wisata pantai di Bali.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) di bawah kendali Menteri Wishnutama Kusubandio dan Wakil Menteri Angela Tanoesoedibjo menargetkan sektor pariwisata menjadi penghasil devisa terbesar bagi negara. Berbagai strategi telah dirancang guna bisa mewujudkan misi tersebut. Apa saja strateginya dan mampukah target tersebut tercapai?

DALAM berbagai kesempatan, termasuk ketika pertama kali menghadiri event pariwisata bertajuk “Indonesia Tourism Outlook 2020” yang berlangsung di Nusa Dua, baru-baru ini, Wishnutama menyampaikan, dengan didukung ekonomi kreatif akan menjadikan sektor pariwisata sebagai penghasil devisa terbesar. “Ketika saya dipanggil Presiden, Beliau berpesan agar pariwisata bisa menjadi penyumbang devisa terbesar dan memberikan nilai tambah bagi industri kreatif, yang akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Wishnutama.

Untuk mendukung target tersebut, ke depan pihaknya akan membuat event-event yang menarik kedatangan wisatawan. Selain itu memperpanjang lama tinggal wisatawan dengan meningkatkan kualitas wisatawan dan pariwisata, hingga memperbaiki citra pariwisata, menggenjot lima destinasi superprioritas, membuat distrik kreatif dan nation branding, meningkatkan kualitas SDM pariwisata, mempermudah izin investor ke sektor pariwisata, serta meningkatkan variasi destinasi wisata seperti ecotourism, sports hingga wisata kuliner. “Calendar of events, ini penting. Selain keindahan alam juga event-nya bisa menampilkan budaya, seni dan kreativitas supaya jadi salah satu nilai jual,” paparnya.

Untuk target waktu, menurut Wishnutama, masih membutuhkan feasibility studyalias studi kelayakan, kesempatan maupun stabilitas. Namun, pihaknya menargetkan pariwisata bisa menjadi penghasil devisa terbesar di bawah lima tahun.

Wakil Ketua Umum DPP Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), I Made Ramia Adnyana mengatakan target kunjungan wisman ke Indonesia tahun 2019 telah diturunkan oleh Menparekraf, yang sebelumnya 20 juta menjadi 18 juta dengan total devisa 17 miliar dolar AS. Kemudian pada tahun 2020-2024 mendatang kunjungan wisman kembali ditargetkan 20 juta dengan harapan devisa yang diraih 20 miliar dolar AS dan mampu menciptakan 15 juta lapangan kerja di sektor pariwisata.

“Jadi tidak salah Presiden Jokowi melalui Menparekraf mencanangkan pariwisata sebagai leading sector pembangunan nasional, yang diikuti oleh perikanan dan pertanian,” ungkap Ramia.

Melihat potensi pariwisata Indonesia yang peringkatnya naik dari 70 ke 40 besar dunia melalui country branding “Wonderful Indonesia”. Malah tahun 2019 Indonesia dinobatkan sebagai The best Country Destination oleh Conde Nast Traveller, majalah pariwisata yang berbasis di Amerika Serikat melalui kategori traveller choice awards. “Satu-satunya industri pariwisata Indonesia yang tumbuh di atas 22 persen di tahun 2017, mengungguli pertumbuhan ASEAN yang hanya 7 persen dan pertumbuhan global yang hanya 6 persen,” sebut Wakil Ketua Bidang Komunikasi dan Informasi PHRI Kabupaten Badung ini.

Pengamat pariwisata Bali, I Wayan Puspanegara juga menyampaikan rasa optimismenya. Dikatakan, sektor pariwisata sangat potensial menjadi kontributor devisa yang besar, bahkan negara-negara yang maju justru sektor pariwisatanya menjadi penyumbang devisa terbesar. Potensi pariwisata Indonesia sangat luar biasa yang didukung jumlah pulau lebih dari 17 ribu, serta aneka ragam budaya dan keramahtamahan masyarakat. Hanya semua itu belum tergarap secara spektakuler. “Artinya, ke depan harus  ada langkah-langkah strategis menyangkut penguatan infrastruktur, aksesibilitas, serta sarana dan prasarana. Karena aksesibilitas menjadi esensial untuk pengembangan destinasi di samping perkuatan sektor keamanan, kenyamanan, service dan branding atau promosi,” papar Puspanegara.

Mantan legislator ini menambahkan, langkah yang baik setelah terbangunnya destinasi adalah merangkai paket-paket wisata yang menarik dalam bentuk extra value package atau paket bernilai ekstra. “Artinya, wisman akan mendapat nilai tambah ketika berkunjung ke satu destinasi yang otomatis mendapat destinasi lainnya. Maka dengan pembelanjaan tertentu serta waktu tertentu wisman akan mendapatkan kunjungan yang lebih, atau hal ini bisa menambah lenght of stay(lama masa tinggal) karena Indonesia begitu luas dan banyak objek wisata yang tersedia,” jelasnya. Selanjutnya pemerintah harus terus mengembangkan atau mengeksplorasi destinasi-destinasi baru di seluruh Tanah Air secara masif. *dar

BAGIKAN