Kunjungan Turis ”Great” Cina ke Bali justru Turun

Wisatawan dari great Cina seperti wilayah Cina daratan, Hongkong dan Macau merupakan pasar potensial bagi Bali sebagai destinasi dunia

Wisatawan dari great Cina seperti wilayah Cina daratan, Hongkong dan Macau merupakan pasar potensial bagi Bali sebagai destinasi dunia. Namun sayangnya data menunjukkan, jumlah kunjungan wisatawan great Cina ke Indonesia, termasuk Bali mengalami penurunan pada 2019. Kenapa dan apa yang harus dilakukan untuk dongkrak wisatawan negeri bambu ini ke Pulau Dewata?


KEMENTERIAN Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada 2019 menargetkan jumlah kunjungan wisatawan great Cina ke Indonesia mencapai 2,8 juta orang. Kenyataanya, jumlah kunjungan wisatawan dari great Cina baru mencapai kurang lebih 1,6 juta orang hingga Oktober 2019.

Dengan kondisi seperti ini, target yang dicanangkan pemerintah diprediksi tidak akan bisa tercapai hingga akhir 2019. Penurunan kunjungan wisatawan Cina ini tidak hanya dirasakan Indonesia saja, namun beberapa negara juga mengalami penurunan yang sama. Penurunan kunjungan wisatawan asal great Cina ini diprediksi akibat pelambatan pertumbuhan ekonomi di sana. Selain itu,  adanya arahan dari pemerintah setempat kepada warganya untuk melakukan kunjungan domestik.

Untuk itu berbagai upaya perlu dilakukan untuk menarik kunjungan wisatawan asing terutama dari Cina ke Pulau Dewata. Alasannya negara lain kini berlomba-lomba juga melirik wisatawan Cina seperti Thailand dan Vietnam.

“Meski tahun ini mengalami penurunan jumlah kunjungan, kami optimistis tahun depan pihaknya optimis kunjungan dari great Cina meningkat,” kata Utari dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia mewakili Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran II Regional I Kemenparekraf.

Ia menyampaikan, Kemenparekraf menargetkan peningkatan jumlah kunjungan secara keseluruhan ke Indonesia tahun depan. Itu bisa terpenuhi kuncinya disertai dengan peningkatan kualitas dan tidak hanya kuantitas yang ditingkatkan.

Selain kualitas yang meningkat, kata Utari dengan menggelar famtrip. Famtrip tersebut cukup berpotensi untuk mendatangkan turis dari kota-kota di Cina ke Indonesia khususnya Pulau Bali.

“Famtrip ini bisa meningkatkan jumlah wisatawan mancanegara dan peningkatan jumlah devisa negara,” ujarnya.

Selain mendukung famtrip, Kemenparekraf disampaikan Utari juga melakukan beberapa hal untuk meningkatkan kedatangan turis Tiongkok ke Indonesia seperti ikut dalam pameran-pameran di Tiongkok untuk mempromosikan pariwisata yang ada di Tanah Air.

“Kami juga melakukan kegiatan-kegiatan lainnya untuk meningkatkan kunjungan turis Tiongkok. Harapannya bisa meningkatkan grafik jumlah kunjungan dan jumlah penerimaan devisa negara,” ucapnya.

Sementara itu, plt. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Putu Astawa mengkui, jumlah kujungan wisatawan Tiongkok memang mengalami penurunan mencapai 10-15 persen bila dibandingkan dengan tahun lalu. Banyak faktor menurutnya yang menyebabkan, salah satunya adanya perang dagang AS-Tiongkok. Selain itu pertumbuhan ekonomi dunia yang direvisi turun sehingga sangat berdampak pada kunjungan wisatawan Tiongkok.

Wisatawan Cina diakui menempati urutan pertama kunjungan wisatawan asing ke Bali, dan dari tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat, sehingga jalinan kerja sama makin ditingkatkan khususnya bagi pengembangan pariwisata kedua belah pihak. Pemerintah Bali, berkomitmen tinggi dalam meningkatkan kualitas pariwisata Bali yang dilakukan dengan berbagai pembangunan infrastruktur penunjang pariwisata. Di sisi lain, jasa pelayanan baik sumber daya manusia maupun sistemnya juga terus ditingkatkan, dengan demikian Bali dapat memberikan layanan terbaik bagi wisatawan.

Ia pun menyambut baik kedatangan peserta Famtrip asal Hangzhou ini, dengan harapan mereka dapat membantu mengenalkan potensi-potensi wisata di Bali dan mengajak masyarakat di sana untuk berkunjung ke Bali.

Terlebih hubungan antara Cina dan Bali sudah terjalin erat sejak puluhan abad silam. Hal ini terlihat dari banyaknya jejak peninggalan dan pengaruh kebudayaan Cina (Tiongkok) dalam masyarakat Bali, seperti baris Cina di daerah Renon, Semawang Sanur, Barong Landung, merupakan peninggalan tertua dengan prasasti Balingkang tentang pernikahan Raja Jaya Pangus dengan Putri China Fang Seng Hui serta tari barong yang dimiliki oleh sebagian besar desa-desa adat di Bali.

Selain itu, penggunaan uang kepeng di Bali dengan nama pis bolong sebagai fungsi spiritual upacara termasuk untuk pratima (simbul suci) serta upacara kematian yang menggunakan lampu lampion atau damar kurung.

Hal sama dikatakan perwakilan dari Travel Local, Sumariyanto. Ia berharap, dengan kegiatan famtrip yang diikuti 45 travel agent dari Hanzhou, kunjungan wisatawan Tiongkok terutama dari Hangzhou hingga bulan Februari 2020 bisa menvapai 4.000-5.000 orang. Hal itu kata dia, karena saat ini Hangzhou menjadi pusat ekonomi yang sedang berkembang sangat pesat.

“Dari sana kita bisa mendatangkan tamu berkualitas yang spendernya tinggi dan juga diikuti oleh spender bawah dan menengah. Biasanya leader adalah dari mereka-mereka ini,” jelasnya. *dik

BAGIKAN